Senin, 17 Oktober 2016

5 Metode Pembelajaran dalam Pendekatan Kolaboratif

Metode-Metode Pembelajaran dalam Pendekatan Kolaboratif

Postingan ini merupakan lanjutan dari post Pendekatan Kolaboratif. Sebelumnya, dalam Pendekatan Kolaboratif telah dibahas pula lima metode pembelajaran di antaranya 1) Teams Games Tournament (TGT), 2) Teams Assisted Individualization (TAI), 3) Student Team Achievement Division (STAD), 4) Numbered Head Together (NHT), 5) Jigsaw. Kali ini saya akan melanjutkan lima metode pembelajaran lainnya.

6. Think Pair Share (TPS)

Metode pembelajaran Think Pair Share menggunakan gagasan tentang waktu 'tunggu atau berpikir' di dalam elemen interaksi pembelajaran kooperatif. Metode pembelajaran TPS memiliki manfaat 1) memungkinkan siswa untuk bekerja sendiri maupun bekerja sama dengan teman; 2) mampu mengoptimalkan partisipasi siswa; 3) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi dalam kelompok. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Pembagian kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang.

Pemberian tugas: guru memberikan tugas pada setiap kelompok.

Bekerja dalam kelompok: siswa mulai bekerja atau mengerjakan tugas dari guru secara mandiri dalam kelompok.

Membentuk pasangan: kelompok membentuk anggota-anggotanya secara berpasangan, lalu setiap pasangan berdiskusi atas pekerjaannya.

Diskusi dalam kelompok: setelah selesai diskusi berpasangan, dilanjutkan diskusi dalam kelompok masing-masing.

7. Two-Stay Two-Stray

Metode pembelajaran Two-Stay memiliki tujuan supaya siswa dapat bersosialisasi dengan baik: saling bekerja sama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah, dan saling mendorong satu sama lain untuk berprestasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. 

Pemberian subpokok bahasan: guru memberikan tugas pada setiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompok.

Bekerja dalam kelompok: siswa mulai bekerja atau mengerjakan tugas dari guru secara bersama-sama dalam kelompok.

Diskusi antar kelompok: 2 anggota masing-masing kelompok pergi meninggalkan kelompoknya dan berdiskusi dengan kelompok lain sebagai 'tamu', sedangkan 2 anggota yang tinggal di dalam kelompok bertugas sebagai 'tuan rumah' untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya kepada kelompok 'tamu' yang datang.

Diskusi dalam kelompok: 'tamu' kembali ke kelompoknya sendiri untuk membahas dan mencocokan pekerjaannya.

Presentasi hasil kerja: masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja.

8. Role Playing

Metode pembelajaran Role Playing dikenal juga sebagai metode bermain peran. Metode pembelajaran ini mengkondisikan siswa dalam situasi tertentu di luar kelas (situasinya bukan KBM nya). Pembelajaran dengan metode ini membutuhkan imajinasi dan penghayatan siswa. Sebab, pembelajar harus membayangkan dirinya seolah-olah menjadi orang lain. 
Keunggulan metode Role Playing: 1) kesan yang ditimbulkan dalam pembelajaran kuat, 2) mendapa pengalaman belajar menyenangkan, 3) suasana kelas menjadi dinamis, 4) membangkitkan gairah siswa, 5) siswa dpaat langsung memerankan sesuatu yang dipelajari.

Kelemahan metode Role Playing: 1)waktu yang dibutuhkan sangat banyak, 2) membutuhkan latihan, 3) membutuhkan susasana yang kondusif, 4) persiapan harus benar-benar matang, 5) tidak semua mater dapat disajikan.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Persiapan skenario: guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.

Pemilihan pemeran: guru memilih beberapa siswa untuk mempelajari skenario, harus dilakukan beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar. 

Membentuk kelompok: guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang.

Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai: guru menjelaskan kompetensi sebelum pelajaran dimulai.
Pertunjukan: guru mempersilahkan permain yang telah ditunjuk sebelumnya untuk memulai pertunjukan. 

Pembagian lembar kerja: setelah mengamati pertunjukan. setiap siswa diberi lembar kerja untuk membahas/menilai penampilan.

Penyampaian hasil kelompok: setiap kelompok menyampaikan hasil pembahasan/ hasil penilaiannya.

Kesimpulan dan evaluasi dari guru: guru memberikan kesimpulan dan evaluasi.

9. Pair Check

Sesuai namanya, metode pembelajaran Pair Check menerapkan pembelaran dengan kelompok antar dua orang (pair). Metode ini menuntuk kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan. 
Pengaturan pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini secara umum adalah sebagai berikut:
a. siswa bekerja berpasangan
b. pembagian peran partner dan pelatih
c. pelatih memberi soal, partner yang menjawab
d. bertukar posisi
e. menyimpulkan hasil pembelajaran
f. evaluasi
g. refleksi

10. Cooperative Script

Strategi cooperative script ini memiliki tujuan untuk membantu siswa dalam berpikir secara sistematis dan berkonsentrasi pada materi pelajaran. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini secara umum adalah sebagai berikut:
Pembagian kelompok: guru membagi siswa ke dalam kelompok secara berpasangan.

Pemberian materi: guru memberikan materi untuk dibaca dan dibuat ringkasannya.

Membagi peran: guru dan siswa menetapkan siapa yang menjadi peran pembicara dan siapa yang menjadi peran pendengar.

Penyampaian ringkasan: Pembicara menyampaikan ringkasannya kepada pendengar. Pendengar menyimak dan menghubungkan bahasan dengan materi sebelumnya.

Bertukar peran: siswa yang semula sebagai pembicara bertukar menjadi pendengar, dan sebaliknya.

Membuat kesimpulan: guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan dari materi yang sudah dipelajari.




Minggu, 16 Oktober 2016

Pendekatan Kolaboratif dan Metode Pendekatannya

Tujuan Pendekatan Kolaboratif

Postingan ini merupakan lanjutan dari post Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Bagi sobat yang belum membacanya silah klik di sini.
Pada pendekatan kolaboratif, siswa didorong untuk mampu: a) menerima orang lain, membantu orang lain, menghadapi tantangan, dan bekerja dalam tim. Sama seperti pendekatan yang telah dibahas sebelumnya, pendekatan kolaboratif juga memiliki metode pembelajarannya sendiri. Metode pembelajaran kolaboratif antara lain: 1) Teams Games Tournament (TGT), 2) Teams Assisted Individualization (TAI), 3) Student Team Achievement Division (STAD), 4) Numbered Head Together (NHT), 5) Jigsaw, 6) Think Pair Share (TPS), 7) Two Stay Two Stray (TSTS), 8) Role Playing, 9) Pair Check, dan terakhir 10) Cooperative Script.

Macam-Macam Metode Pendekatan Kolaboratif

1. Teams Games Tournament (TGT)

Teams Games Tournament adalah metode pembelajaran kooperatif yang dikembangkan Slavin pada tahun 1995. TGT digunakan untuk membantu siswa dalam mereview dan menguasai materi pelajaran. Elemen yang dituju dengan penggunaan metode ini adalah peningkatan skill dasar, interaksi positif antar siswa, harga diri, serta penerimaan pada siswa lainya yang berbeda.
Metode pembelajaran Teams Games Tournament menempatkan satu kelompok yang terdiri dari orang-orang dengan 3 kemampuan yang berbeda (tinggi, sedang, rendah). Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian Kelompok: Pada tahap ini, guru mulai membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari maksimal 4 orang. Siswa dibagi ke dalam kelompok secara heterogen berdasarkan rangking akademik siswa. 

Turnamen: Sistem tournamen dapat diatur sedemikian rupa menggunakan media kartu soal maupun perangkat multimedia. Tiap kelompok akan mendapatkan pertanyaan . Kemudian siswa berusaha menjawab pertanyaan.

Scoring: Penentuan pemenang adalah dengan skor yang paling banyak.

2. Team Asisted Individualization (TAI)

TAI merupakan sebuah program pedagogik yang mengadaptasikan pembelajaran dengan perbedaan individual secara akademik. 
Metode Team Asisted Individualization bertujuan untuk meminimalisir pengajaran individual yang kurang efektif. Caranya adalah dengan membagi siswa kedalam kelompok-kelompok heterogen. Kriteria yang harus dipenuhi dalam pembelajaran ini adalah a) meminimalisir keterlibatan guru, b) melibatkan guru mengajar pada kelompok kecil yang heterogen, c) memotivasi siswa untuk mempelajari materi-materi dengan cepat dan akurat, d) siswa mampu bekerja dengan siswa lain yang berbeda kemampuan. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian kelompok: siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pembagian dalam Metode TGT.

Tes Penempatan: siswa diberikan pre-test. Setiap siswa ditempatkan pada tingkatan yang sesuai dengan program individual berdasarkan hasil pre-test.

Mempelajari Materi: siswa mempelajari materi yang akan didiskusikan.

Belajar Kelompok: siswa melakukan belajar kelompok dalam satu tim.

Skoring dan Pengakuan: skoring diberikan di akhir pengajaran, tim yang terbaik memperoleh penghargaan dari guru.

Kelompok Pengajaran: guru memberikan pengajaran kepada setiap kelompok tentang materi yang sudah didiskusikan.

Tes Kemampuan: guru meminta siswa untuk mengerjakan tes untuk membuktikan kemampuan mereka.

3. Student Team Achievement Division (STAD)

Strategi ini merupakan salah satu strategi yang menerapkan kerjasama antar kelompok kecil dengan kemampuan akademik yang berbeda untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran. 
Tahapan pembagian kelompok hampir sama dengan TGT dan TAI. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Pembagian kelompok: siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pembagian dalam Metode TGT, dan TAI.

Pengajaran: guru menyajikan materi pelajaran, format pelajaran dapat berupa ceramah-diskusi.

Tim Studi: para anggotta kelompok bekerja secara kooperatif menyelesaikan lembar kerja dan lembar jawaban yang diberikan guru.

Tes: setiap siswa secaara individual menyelesaikan kuis. Setiap kusi diberi skor dan dicatat perolehan hasilnya. Hasil tes individu akan diakumulasikan untuk skor tim mereka.

Rekoknisi/Penghargaan: setiap tim memperoleh penghargaan bergantung pada skor tim.

4. Numbered-Head Together (NHT)

Metode pembelajaran Numbered Head Together pada dasarnya merupakan varian dari diskusi kelompok. Tujuan dari metode pembelajaran ini adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Penomoran: masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.

Tugas: guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk dikerjakan.

Diskusi kelompok: setiap kelompok berdiskusi untuk menjawab pertanyaan. Setiap anggota kelompok harus dipastikan mengetahui jawaban tersebut.

Presentasi: guru secara acak memanggil nomor siswa. Siswa yang terpanggil nomornya maju dan mempresentasikan jawaban.

5. Jigsaw

Metode pembelajaran Jigsaw membutuhkan kemampuan guru untuk memahami kemampuan dan pengalaman siswa. Selain kemampuan dan pengalaman siswa, guru juga harus mampu memberi banyak kesempatan pada siwa untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah in:


Pembagian topik: awal pelajaran, guru membagi topik pelajaran kedalam sub-sub topik. Misal dalam pelajaran memahami unsur intrinsik drama, guru dapat membaginya menjadi enam bagian yaitu tema, plot/alur, tokoh, latar/seting, dialog, petunjuk lakuan.

Pengarahan dari guru: pengarahan dapat berupa brainstroming agar siswa lebih siap menghadapi bahan pelajaran baru.  

Pembagian kelompok: kelompok dibagi dengan anggota sesuai  jumlah subtopik.

Pembagian subtopik dalam kelompok: tiap siswa dalam satu kelompok memperoleh bagian subtopik yang berbeda dari anggota yang lainnya.

Bekerja pada subtopik: setelah pembagian sbutopik, tiap siswa belajar atau mengerjakan subtopiknya masing-masing.

Diskusi antar subtopik dalam kelompok: siswa berinteraksi dengan anggota lain dalam kelompok dan mendiskusikan subtopiknya masing-masing.

Diskusi topik antar kelompok: diskusi ini dilakukan oleh seluruh anggota

Kelompok ahli: kelompok ahli dapat dibentuk apabila materi dirasa cukup sulit. Kelompok ahli ini terdiri dari kumpulan anggota kelompok yang mendapat subtopik tertentu, misal "tema". Para anggota kelompok dengan subtopik tema akan berkumpul menjadi satu kelompok. Kemudian mereka bekerjasama mempelajari subtopik tersebut. Setelah selesai mempelajari subtopik tersebut, anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompoknya semula.

Acuan Penulisan:
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




Jumat, 14 Oktober 2016

Pendekatan Pembelajaran dan Metode Pembelajaran

Apa itu Pendekatan Pembelajaran?


Bagi Bapak/Ibu guru pasti akrab dengan istilah pendekatan pembelajaran. Namun apakah sebenarnya pendekatan pembelajaran itu?
Pendekatan pembelajaran disebut juga cara-cara yang ditempuh oleh pembelajar untuk belajar dengan efektif. Dalam suatu Kegiatan Belajar Mengajar,  guru mempunyai peran penting yaitu memberikan perangkat metodis yang mampu menuntun siswa untuk mencapai kebutuhan belajar. Inti dari pendekatan pembelajaran adalah bagaimana mengembangkan kesadaran dalam individu siswa mengenai strategi belajar dan proses berpikir yang efektif.

6 Pendekatan Pembelajaran

Ada berapa pendekatan pembelajaran? Sangat banyak. Berikut ini adalah enam jenis pendekatan pembelajaran yang akan kita bahas:
1. pendekatan organisasional
2. pendekatan kolaboratif
3. pendekatan komunikatif
4. pendekatan informatif
5. pendekatan reflektif
6. pendekatan berpikir dan berbasis masalah

Tiap pendekatan pembelajaran memiliki metode pembelajarannya masing-masing. Pada kesempatan ini, kita akan membahas salah satu pendekatan dan metode pembelajarannya.

Pendekatan Organisasional

Pendekatan organisasional mempunyai tujuan sebagai berikut: a) mampu mengatur waktu, b) mampu mengatur tugas secara efektif, c) mampu terlibat dalam pembelajaran d) mampu medekati tugas-tugas pembelajaran, e) menyajikan hasil kerja, f) mampu mengorganisasi materi, g) mampu mengorganisasi kerja.

Metode-metode yang dapat digunakan:

a. Metode Explicit Instruction

Explicit Instruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang memang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa. Strategi ini juga dikenal dengan Model Pengajaran Langsung. Bentuk dari strategi ini dapat berupa ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok. Metode ini memiliki tahapan sebagai berikut:

b. Metode Kumon

Kumon adalah salah satu korporasi pendidikan yang digagas Toru Kumon, di Osaka:1958
Metode pembelajaran Kumon ini biasanya digunakan untuk pembelajaran matematika dan membaca. Kumon merupakan metode belajar perseorangan Level awal. Cara pembelajarannya adalah memberikan masing-masing siswa lembar kerja yang mudah dan dapat dikerjakan sendiri. Dengan demikian siswa dapat belajar sendiri sehingga ada keinginan untuk mengejar bahan pelajaran dengan level di atasnya. Melalui pencapaian target, siswa akan merasa puas dan gembira. 

Pengaturan pembelajaran dengan metode Kumon dapat dilihat pada gambar di bawah:
Tes penempatan awal: siswa mengerjakan tes untuk menentukan level awal siswa. Karena Kumon terdiri dari rangkaian lembar kerja yang terdiri dari beberapa level, menentukan level awal merupakan bagian terpenting metode ini.

Menghadiri kelas: biasanya kelas Kumon dilaksanakan 2x seminggu. Karena dalam metode ini siswa didorong untuk bekerja mandiri, maka tidak ada pengajaran secara khusus.

Mendukung belajar mandiri artinya: guru menyiapkan lembar kerja untuk setiap siswa dan memastikan siswa belajar pada tingkatan yang tepat.

Bekerja mandiri: setelah lembar kerja diserahkan kepada guru, lembar kerja tersebut akan dinilai dan dikembalikan ke siswa. Apabila ada kesalahan, siswa memperbaikinya sendiri.

Pekerjaan rumah: selain tugas di kelas, guru juga memberikan pekerjaan rumah. Hal ini juga bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari orang tua di rumah. 

c. Quantum

Model pembelajaran ini membiasakan siswanya untuk belajar menyenangkan. Dengan rasa senang terhadap pelajarannya diharapkan dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Dengan adanya minat belajar yang baik tentu akan menghasilkan hasil belajar yang baik pula. 
Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:



Acuan Penulisan:
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.