Minggu, 16 Oktober 2016

Pendekatan Kolaboratif dan Metode Pendekatannya

Tujuan Pendekatan Kolaboratif

Postingan ini merupakan lanjutan dari post Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Bagi sobat yang belum membacanya silah klik di sini.
Pada pendekatan kolaboratif, siswa didorong untuk mampu: a) menerima orang lain, membantu orang lain, menghadapi tantangan, dan bekerja dalam tim. Sama seperti pendekatan yang telah dibahas sebelumnya, pendekatan kolaboratif juga memiliki metode pembelajarannya sendiri. Metode pembelajaran kolaboratif antara lain: 1) Teams Games Tournament (TGT), 2) Teams Assisted Individualization (TAI), 3) Student Team Achievement Division (STAD), 4) Numbered Head Together (NHT), 5) Jigsaw, 6) Think Pair Share (TPS), 7) Two Stay Two Stray (TSTS), 8) Role Playing, 9) Pair Check, dan terakhir 10) Cooperative Script.

Macam-Macam Metode Pendekatan Kolaboratif

1. Teams Games Tournament (TGT)

Teams Games Tournament adalah metode pembelajaran kooperatif yang dikembangkan Slavin pada tahun 1995. TGT digunakan untuk membantu siswa dalam mereview dan menguasai materi pelajaran. Elemen yang dituju dengan penggunaan metode ini adalah peningkatan skill dasar, interaksi positif antar siswa, harga diri, serta penerimaan pada siswa lainya yang berbeda.
Metode pembelajaran Teams Games Tournament menempatkan satu kelompok yang terdiri dari orang-orang dengan 3 kemampuan yang berbeda (tinggi, sedang, rendah). Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian Kelompok: Pada tahap ini, guru mulai membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari maksimal 4 orang. Siswa dibagi ke dalam kelompok secara heterogen berdasarkan rangking akademik siswa. 

Turnamen: Sistem tournamen dapat diatur sedemikian rupa menggunakan media kartu soal maupun perangkat multimedia. Tiap kelompok akan mendapatkan pertanyaan . Kemudian siswa berusaha menjawab pertanyaan.

Scoring: Penentuan pemenang adalah dengan skor yang paling banyak.

2. Team Asisted Individualization (TAI)

TAI merupakan sebuah program pedagogik yang mengadaptasikan pembelajaran dengan perbedaan individual secara akademik. 
Metode Team Asisted Individualization bertujuan untuk meminimalisir pengajaran individual yang kurang efektif. Caranya adalah dengan membagi siswa kedalam kelompok-kelompok heterogen. Kriteria yang harus dipenuhi dalam pembelajaran ini adalah a) meminimalisir keterlibatan guru, b) melibatkan guru mengajar pada kelompok kecil yang heterogen, c) memotivasi siswa untuk mempelajari materi-materi dengan cepat dan akurat, d) siswa mampu bekerja dengan siswa lain yang berbeda kemampuan. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Pembagian kelompok: siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pembagian dalam Metode TGT.

Tes Penempatan: siswa diberikan pre-test. Setiap siswa ditempatkan pada tingkatan yang sesuai dengan program individual berdasarkan hasil pre-test.

Mempelajari Materi: siswa mempelajari materi yang akan didiskusikan.

Belajar Kelompok: siswa melakukan belajar kelompok dalam satu tim.

Skoring dan Pengakuan: skoring diberikan di akhir pengajaran, tim yang terbaik memperoleh penghargaan dari guru.

Kelompok Pengajaran: guru memberikan pengajaran kepada setiap kelompok tentang materi yang sudah didiskusikan.

Tes Kemampuan: guru meminta siswa untuk mengerjakan tes untuk membuktikan kemampuan mereka.

3. Student Team Achievement Division (STAD)

Strategi ini merupakan salah satu strategi yang menerapkan kerjasama antar kelompok kecil dengan kemampuan akademik yang berbeda untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran. 
Tahapan pembagian kelompok hampir sama dengan TGT dan TAI. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Pembagian kelompok: siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang seperti pembagian dalam Metode TGT, dan TAI.

Pengajaran: guru menyajikan materi pelajaran, format pelajaran dapat berupa ceramah-diskusi.

Tim Studi: para anggotta kelompok bekerja secara kooperatif menyelesaikan lembar kerja dan lembar jawaban yang diberikan guru.

Tes: setiap siswa secaara individual menyelesaikan kuis. Setiap kusi diberi skor dan dicatat perolehan hasilnya. Hasil tes individu akan diakumulasikan untuk skor tim mereka.

Rekoknisi/Penghargaan: setiap tim memperoleh penghargaan bergantung pada skor tim.

4. Numbered-Head Together (NHT)

Metode pembelajaran Numbered Head Together pada dasarnya merupakan varian dari diskusi kelompok. Tujuan dari metode pembelajaran ini adalah memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. 
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Penomoran: masing-masing siswa dalam kelompok diberi nomor.

Tugas: guru memberikan tugas kepada masing-masing kelompok untuk dikerjakan.

Diskusi kelompok: setiap kelompok berdiskusi untuk menjawab pertanyaan. Setiap anggota kelompok harus dipastikan mengetahui jawaban tersebut.

Presentasi: guru secara acak memanggil nomor siswa. Siswa yang terpanggil nomornya maju dan mempresentasikan jawaban.

5. Jigsaw

Metode pembelajaran Jigsaw membutuhkan kemampuan guru untuk memahami kemampuan dan pengalaman siswa. Selain kemampuan dan pengalaman siswa, guru juga harus mampu memberi banyak kesempatan pada siwa untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Proses pelaksanaan pembelajaran dengan metode ini dapat dilihat pada gambar dibawah in:


Pembagian topik: awal pelajaran, guru membagi topik pelajaran kedalam sub-sub topik. Misal dalam pelajaran memahami unsur intrinsik drama, guru dapat membaginya menjadi enam bagian yaitu tema, plot/alur, tokoh, latar/seting, dialog, petunjuk lakuan.

Pengarahan dari guru: pengarahan dapat berupa brainstroming agar siswa lebih siap menghadapi bahan pelajaran baru.  

Pembagian kelompok: kelompok dibagi dengan anggota sesuai  jumlah subtopik.

Pembagian subtopik dalam kelompok: tiap siswa dalam satu kelompok memperoleh bagian subtopik yang berbeda dari anggota yang lainnya.

Bekerja pada subtopik: setelah pembagian sbutopik, tiap siswa belajar atau mengerjakan subtopiknya masing-masing.

Diskusi antar subtopik dalam kelompok: siswa berinteraksi dengan anggota lain dalam kelompok dan mendiskusikan subtopiknya masing-masing.

Diskusi topik antar kelompok: diskusi ini dilakukan oleh seluruh anggota

Kelompok ahli: kelompok ahli dapat dibentuk apabila materi dirasa cukup sulit. Kelompok ahli ini terdiri dari kumpulan anggota kelompok yang mendapat subtopik tertentu, misal "tema". Para anggota kelompok dengan subtopik tema akan berkumpul menjadi satu kelompok. Kemudian mereka bekerjasama mempelajari subtopik tersebut. Setelah selesai mempelajari subtopik tersebut, anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompoknya semula.

Acuan Penulisan:
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




Berbagai Jenis Kecerdasan

Macam-Macam Jenis Kecerdasan

Selama ini kita mengenal yang namanya tes kecerdasan. Tes ini sering disebut juga tes IQ. Tes IQ biasanya dinyatakan dalam angka. Semakin besar nilai yang didapatkan, maka semakin cerdas seseorang. Namun, tahukah kamu ada berapa jenis kecerdasan yang dimiliki manusia?

Gardner,1993 menyimpulkan setidaknya ada tujuh jenis kecerdasan yang dimiliki setiap orang dalam tingkatan yang besar maupun kecil (Amstrongs, 2014:14).

Apa sajakah tujuh kecerdasan itu?

1. Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan ini menyangkut pemahaman terhadap linguistik bahasa (fonologi, sintaksis, semantik, dan pragmatiknya). Orang dengan kecerdasan ini mampu untuk meyakinkan orang lain dengan bahasanya untuk mengingat informasi, menjelaskan ataupun mengomunikasikan pengetahuan, bahkan merenungkan bahasa itu sendiri. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah: pendongeng, orator, penyait, editor, novelis, dan sebagainya.

2. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh

Kecerdasan ini memungkinkan untuk mengontrol gerakan tubuh dan daya kapasitas seseorang untuk mengatasi objek dengan terampil. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah aktor, pantomin, pengrajin, atlet, penari, dan pematung, dan sebagainya.

3. Kecerdasan Spasial

Kecerdasan ini memungkinkan untuk memahami dunia visual secara akurat, melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal seseorang, serta dapat menciptakan kembali aspek pengalaman visual seseorang. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah arsitek, pembuat peta, surveyor, penemu, seniman grafis, dan sebagainya..

4. Kecerdasan Musikal

Kecerdasan ini memungkinkan untuk memahami dan mengekspresikan komponen musik. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah komposer, pianis, pemain perkusi, kritikus musik, penyanyi, dan sebagainya.

5. Kecerdasan Logika-Matematis

Kecerdasan ini memungkinkan untuk memahami dan menggunakan struktur logika, termasuk pola dan hubungan, dan pernyataan dan proposisi, emlalui eksperimen, kuantifikasi, konseptualisasi, dan klasifikasi. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah ilmuwan, ahli matematika, ahli logika, programmer komputer, ahli statistik, dan sebagainya.

6. Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan ini memungkinkan untuk mengakses kehidupan emosional seseorang melalui kesadaran perasaan batin, niat, motivasi, potensi, temperamen, dan keinginan, serta kapasitas untuk melambangkan pengalaman-pengalaman batin tersebut, dan untuk menerapkannya guna membantu orang lain dalam menjalani kehidupan. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah psikoterapis, wirausahawan, seniman kreatif, ahli pengobatan, dan sebagainya.

7. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan ini memungkinkan untuk melihat dan membuat perbedaan di antara individu-individu lainnya yang berkaitan dengan suasana hati, temperamen, motivasi, niat; dan menggunakan informasi ini dengan cara yang pragmatis, seperti untuk membujuk, memengaruhi, memanipulasi, mediasi, atau memberikan nasihat untuk tujuan tertentu. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah pengurus serikat pekerja, guru, terapis, administrator, politikus, dan sebagainya.

8. Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan ini memungkinkan untuk mengenali dan mengklasifikasikan bermacam-macam spesies flora dan fauna di lingkungan dan kemampuan untuk memelihara, menjinakan, berinteraksi secara halus dengan mahluk hidup serta seluruh ekosistem. Contoh orang dengan kecerdasan ini adalah ahli zoologi, ahli biologi, dokter hewan, polisi hutan, dan pemburu.


Acuan Penulisan:
Amstrong, Thomas. 2014. Kecerdasan Jamak. Jakarta: Indeks.


Jumat, 14 Oktober 2016

Pendekatan Pembelajaran dan Metode Pembelajaran

Apa itu Pendekatan Pembelajaran?


Bagi Bapak/Ibu guru pasti akrab dengan istilah pendekatan pembelajaran. Namun apakah sebenarnya pendekatan pembelajaran itu?
Pendekatan pembelajaran disebut juga cara-cara yang ditempuh oleh pembelajar untuk belajar dengan efektif. Dalam suatu Kegiatan Belajar Mengajar,  guru mempunyai peran penting yaitu memberikan perangkat metodis yang mampu menuntun siswa untuk mencapai kebutuhan belajar. Inti dari pendekatan pembelajaran adalah bagaimana mengembangkan kesadaran dalam individu siswa mengenai strategi belajar dan proses berpikir yang efektif.

6 Pendekatan Pembelajaran

Ada berapa pendekatan pembelajaran? Sangat banyak. Berikut ini adalah enam jenis pendekatan pembelajaran yang akan kita bahas:
1. pendekatan organisasional
2. pendekatan kolaboratif
3. pendekatan komunikatif
4. pendekatan informatif
5. pendekatan reflektif
6. pendekatan berpikir dan berbasis masalah

Tiap pendekatan pembelajaran memiliki metode pembelajarannya masing-masing. Pada kesempatan ini, kita akan membahas salah satu pendekatan dan metode pembelajarannya.

Pendekatan Organisasional

Pendekatan organisasional mempunyai tujuan sebagai berikut: a) mampu mengatur waktu, b) mampu mengatur tugas secara efektif, c) mampu terlibat dalam pembelajaran d) mampu medekati tugas-tugas pembelajaran, e) menyajikan hasil kerja, f) mampu mengorganisasi materi, g) mampu mengorganisasi kerja.

Metode-metode yang dapat digunakan:

a. Metode Explicit Instruction

Explicit Instruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang memang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa. Strategi ini juga dikenal dengan Model Pengajaran Langsung. Bentuk dari strategi ini dapat berupa ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok. Metode ini memiliki tahapan sebagai berikut:

b. Metode Kumon

Kumon adalah salah satu korporasi pendidikan yang digagas Toru Kumon, di Osaka:1958
Metode pembelajaran Kumon ini biasanya digunakan untuk pembelajaran matematika dan membaca. Kumon merupakan metode belajar perseorangan Level awal. Cara pembelajarannya adalah memberikan masing-masing siswa lembar kerja yang mudah dan dapat dikerjakan sendiri. Dengan demikian siswa dapat belajar sendiri sehingga ada keinginan untuk mengejar bahan pelajaran dengan level di atasnya. Melalui pencapaian target, siswa akan merasa puas dan gembira. 

Pengaturan pembelajaran dengan metode Kumon dapat dilihat pada gambar di bawah:
Tes penempatan awal: siswa mengerjakan tes untuk menentukan level awal siswa. Karena Kumon terdiri dari rangkaian lembar kerja yang terdiri dari beberapa level, menentukan level awal merupakan bagian terpenting metode ini.

Menghadiri kelas: biasanya kelas Kumon dilaksanakan 2x seminggu. Karena dalam metode ini siswa didorong untuk bekerja mandiri, maka tidak ada pengajaran secara khusus.

Mendukung belajar mandiri artinya: guru menyiapkan lembar kerja untuk setiap siswa dan memastikan siswa belajar pada tingkatan yang tepat.

Bekerja mandiri: setelah lembar kerja diserahkan kepada guru, lembar kerja tersebut akan dinilai dan dikembalikan ke siswa. Apabila ada kesalahan, siswa memperbaikinya sendiri.

Pekerjaan rumah: selain tugas di kelas, guru juga memberikan pekerjaan rumah. Hal ini juga bertujuan untuk mendapatkan dukungan dari orang tua di rumah. 

c. Quantum

Model pembelajaran ini membiasakan siswanya untuk belajar menyenangkan. Dengan rasa senang terhadap pelajarannya diharapkan dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Dengan adanya minat belajar yang baik tentu akan menghasilkan hasil belajar yang baik pula. 
Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:



Acuan Penulisan:
Huda, Miftahul. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.





Kamis, 13 Oktober 2016

Teks Eksposisi

Teks Eksposisi

Eksposisi berarti memaparkan. 

Teks eksposisi adalah teks yang menyingkapkan atau memaparkan pikiran, ide, gagasan, perasaan, penulis agar pembaca dapat mengetahuinya. 
Buah pikir, ide, gagasan, perasaan, yang paparkan oleh penulis disebut tesis 'tema'. Tesis ini adalah inti dari sebuah teks eksposisi. Tesis dapat diungkapkan secara tersurat di dalam sebuah kalimat ataupun secara tersirat. Sebuah contoh: seorang penulis menyampaikan buah pikir nya tentang bahaya laten korupsi dalam sebuah tulisan, maka secara otomatis itulah tesis sang penulis. 
Karena yang bagian utama dalam sebuah teks eksposisi adalah tesis, maka penulis harus memberikan wacana yang mampu mendukung tesisnya, atau membuktikan tesisnya. 
Apabila penulis hendak menyampaikan tesisnya yang berupa bahaya laten korupsi, maka penulis juga harus memberikan argumentasi ataupun membuktikan bahwa korupsi itu berbahaya. Bukti tersebut misalnya, (1) ada paragraf yang menerangkan terlambatnya pembangunan infrastruktur suatu tempat akibat korupsi, (2) dengan pembangunan terganggu, pertumbuhan ekonomi di tempat itu juga tergannggu, (3) yang pada akhirnya ada paragraf yang menerangkan kerugian masif akibat 1 korupsi.
Argumentasi atau uraian-uraian pendukung, dalam teks eksposisi biasanya disebut kelas-kelas semakin baik penulis menguraikan kelas-kelas, semakin baik pula teks eksposisi yang dibuat. Perlu diperhatikan juga bahwa penulisan tiap-tiap kelas hendaknya sebuah paragraf yang berbeda.

Akhir dari tulisan teks eksposisi adalah sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini diambil dari argumentasi  (kelas-kelas) yang telah disampaikan. Kesimpulan yang diambil haruslah kesimpulan yang mendukung tesis.

Kerangka Teks Eksposisi

Dari pemaparan yang telah disampaikan sebelumnya, gambarkan kerangka teks eksposisi adalah sebagai berikut:
1. Tesis 
2. Kelas-kelas (argumentasi)
- kelas-kelas 1
- kelas-kelas 2
- kelas-kelas 3, dst
3. Kesimpulan

Sifat Polemis Teks Eksposisi

Hampir semua teks eksposisi dapat dibuatkan eksposisi tandingan. Isi dari teks eksposisi tidak selalu dapat diterima oleh pembacannya. Hal karena teks eksposisi dapat mengandung sifat polemis. Coba kita lihat kembali contoh tesis bahaya laten korupsi tidak semua pembaca akan setuju dengan penulis. Ada yang beranggapan bahwa korupsi adalah oli pembangunan. Dengan tidak adanya korupsi maka tidak ada pembangunan. Ataupun misalnya ada pembangunan maka hal itu terhambat karena yang berkepentingan mempersulit karena tidak mendapatkan apa-apa. 

Manfaat Pembelajaran Teks Eksposisi

Eksposisi merupakan pola dasar penulisan ilmiah. Eksposisi juga sangat erat hubungannya dengan proses berpikir logis dan sistematis. Pembelajaran teks eksposisi mampu melatih siswa untuk mengambil sikap, sekaligus mendukung sikap itu dengan mengutarakan gagasan secara logis. 


Contoh Teks Eksposisi:

BAHAYA LATEN KORUPSI

(Tesis)
Korupsi merupakan tindakan dapat menyebabkan kerusakan masif. Korupsi adalah kegiatan secara bersembunyi sembunyi, untuk mengurangi apa yang semestinya demi kepentingan pribadi ataupun golongan. Bahaya korupsi bersifat laten namun pasti.
(Kelas-kelas) I
Sebuah korupsi kecil dapat membawa dampak yang besar. Lihat kasus robohnya gedung Wei Guan Golden Dragon di Taiwan misalnya. Peristiwa tersebut menewaskan 35 orang. Akar dari masalah ambruknya gedung tersebut adalah karena beton yang seharusnya dicor dengan semen justru diisi dengan kaleng minyak. Tentu saja dana untuk membeli semen lebih mahal dibandingkan dengan kaleng minyak bekas. Namun kekuatan struktur gedung menjadi lemah. Alhasil hanya karena gempa kecil gedung tersebut roboh. Gedung itu adalah satu-satunya gedung yang roboh.
(Kesimpulan)
Dengan contoh kasus yang telah dipaparkan. Jangan anggap lagi korupsi  sebagai kejahatan sepele. Korupsi kecil pun bisa merupakan kejahatan yang berdampak masif. Karena korupsi menyimpan bahaya laten. Artinya bahaya korupsi tidak terlihat namun menyimpan potensi bahaya yang besar.


Acuan Pustaka:
Marahimin, Ismail. 2008. Menulis Secara Populer. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Teks Deskripsi

Teks Deskripsi 

Deskripsi ialah pemaparan atau penggambaran degan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atu keadaan. Teks deskripsi ditulis untuk menggabarkan apa yang dilihat, didengar, dicium, atau yang dirasakan hingga kesimpulan penulis terhadap suatu objek. Karena itu, teks deskripsi merupakan suatu hasil observasi pancaindra yang kemudian disampaikan penulis kepada pembaca melalui kata-kata. Kualitas teks deskripsi sangat dipengaruhi oleh tingkat pengamatan penulis. 
Secara garus besar, teks deskripsi dibedakan menjadi dua macam.

Teks Deskripsi Ekspositori

Deskripsi ekspositori biasanya isinya merupakan daftar rincian objek yang disusun menurut sistem dan urutan yang logis. Setiap objek memiliki urutan logikanya sendiri-sendiri. Misalnya mendeskripsikan orang, tentunya logis apabila diurutkan dari atas ke bawah terlebih dahulu. 
Deskripsi ekspositori biasanya juga digunakan untuk mendeskripsikan suatu proses. Proses tersebut biasanya juga memiliki urutan logisnya. Misalnya kita hendak mendeskripsikan proses menanak nasi, tentunya penulis harus mengikuti tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses menanak nasi.


Teks Deskripsi Impresionistis

Deskripsi impresiuonistis juga biasa disebut deskripsi stimulatif. Tulisan ini menggambarkan impresi/kesan penulisnya. Tulisan ini tidak terikat pada objek yang dideskripsikan, akan tetapi lebih mendahulukan impresi penulis terhadap objek ketika melakukan observasi. 
Dalam menulis teks jenis ini, urut-urutan yang digunakan bukan lagi urutan logika, akan tetapi kuat lemahnya kesan penulis terhadap objek yang diamati. Misalnya saja seseorang hendak mendeskripsikan rumah barunya, atau rumah temannya, kesan apa yang ingin ditonjolkan penulis? Bisa saja kebersihanya, strukturnya, atau lokasinya. 

Yang Perlu Diperhatikan dalam Menulis Teks Deskripsi

Dalam menulis teks deskripsi, ada hal yang harus diperhatikan oleh penulis yaitu: fakta. Karena teks deskripsi merupakan hasil dari observasi panca indra, maka penulis harus mengutarakan fakta yang ia dapatkan dalam observasinya. Bedakan antara fakta dan realita. Apalagi aneh tapi nyata! Untuk membedakannya, lihat contoh di bawah!

Membedakan Teks: Fakta / Realita/ Aneh tapi nyata.
Teks 1
Di jakarta banyak kampung kumuh, kebersihan tidak terjaga. Banyak rumah-rumah sempit di pinggir sungai. Selain kampung kumuh, masih banyak sungai yang penuh sampah. Pekerjaan penduduk yang tinggal di kampung kumuh tersebut juga tidak menentu.

Teks 2
Ketika saya di Jakarta, saya melihat rumah reyot di pinggir sungai. Rumah itu terkesan hampir rubuh. Dindingnya terbuat dari kayu dan terlihat sudah lapuk. Atapnya sudah banyak yang hilang. Di sana tinggal laki-laki berbadan kurus dengan pakaian compang-camping. 

Bandingkan contoh teks 1 dan teks 2. Teks pertama penulis mendeskripsikan hal-hal yang benar. Hal yang  dideskripsikan oleh penulis dan juga dapat dibuktikan kebenarannya. Tanpa dibuktikan pun orang-orang sudah tahu. Tulisan seperti ini dinamakan realita.

Dalam teks yang kedua, penulis mendeskripsikan hal-hal yang dilihatnya pada waktu di Jakarta. Pembaca harus percaya terhadap tulisan tersebut semasa tulisan tersebut masih masuk akal/ sesuai dengan realita.

Tulisan menjadi "aneh tapi nyata" apabila penulis kedua menambahkan bahwa di sana tinggal laki-laki berbadan tegap dan kekar dengan memakai jas dan mobil mewah. Hal itu menjadi sulit di nalar (aneh) karena rumah reyot pinggir sungai ditinggali laki-laki tegap memakai jas dan punya mobil. Tapi hal itu juga bisa saja terjadi mengingat baru saja diberitakan di televisi mengenai pengemis tertangkap membawa uang tunai 90 juta (tidak percaya? klik ini.

Acuan Penulisan:
Marahimin, Ismail. 2008. Menulis Secara Populer. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Relasi Makna Antonimi

Antonimi

Antonim dikenal sebagai  relasi makna suatu kata yang beroposisi dengan kata lain. Contoh kata antonim adalah:
Panjang >< Pendek
Besar >< Kecil
Sukar >< Mudah


Secara semantik, antonim dapat digolongkan menjadi apa saja? 

Secara semantik, antonimi dapat digolongkan menjadi empat, diantaranya: antonimi biner, nonbiner, bergradasi dan tak bergradasi.


Antonimi Biner

Syarat sebuah kata masuk dalam golongan antonimi biner adalah:
Apabila bukan/ tidak Y, pasti X
Apabila bukan/ tidak X, pasti Y

contoh antonimi biner:

mati >< hidup 
laki-laki >< perempuan
jantan >< betina
pria >< wanita
kata-kata dalam contoh di atas tidak memiliki lawan kata yang lain selain yang tertera.

Antonimi Nonbiner

Syarat sebuah kata masuk dalam golongan antonimi nonbiner adalah:
Oposisi kata bisa 1 kata melawan banyak kata.

contoh antonimi nonbiner:

ayah - paman
suami - istri
barat - utara 

Antonimi Bergradasi

Syarat sebuah kata masuk dalam golongan antonimi bergradasi adalah:
Jika suatu kata dapat dilekatkan dengan kata yang menunjukan kualitas, maka itu bergradasi.

contoh antonimi bergradasi:

dingin - hangat - panas

Antonimi Tak Bergradasi

Syarat sebuah kata masuk dalam golongan antonimi tak bergradasi adalah:
Jika suatu kata tidak dapat dilekatkan dengan kata yang menunjukan kualitas, maka itu tak bergradasi.

contoh antonimi tak bergradasi:

bapak - ibu
suami - istri
hidup - mati

Satu kata dapat masuk ke dalam beberapa golongan antonimi. Lihat contoh kata dalam tabel di bawah ini! Tanda "+" menyatakan jenis antonim suatu kata.

No
Kata
Jenis Antonim
Biner
Nonbiner
Bergradasi
Takbergradasi
Relasional
Direksional
1
Sukar >< Mudah

+
+



2
Jujur >< Bohong
+


+


3
Maju>< Mundur

+
+


+
4
Terjauh ><
Terdekat

+

+


5
Buka >< Tutup
+



+


6
Buka >< Tutup

+

+



7
Taruh >< Ambil

+

+

+
8
Masuk >< Keluar
+


+
+
+
9
Kedepan >< Kebelakang

+
+

+
+
10
Cepat >< Lambat

+
+



11
Nyala >< Padam
+


+


12
Penumpang >< Supir

+

+
+

13
Pemandu >< Peserta

+

+
+

14
Pelaku >< Korban

+

+
+

15
Berhenti >< Melaju
+


+

+