Kamis, 04 Juni 2015

Sosiologi Sastra

Sosiologi Sastra

Pengertian Sosiologi Sastra

Damono, via Wiyatmi (2013) mengatakan, studi sosiologi sastra sering didefinisikan sebagai pendekatan yang memahami dan menilai karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemayarakatan (sosial). Apabila dilihat dari namanya, sosiologi sastra terdiri dari kata sosiologi dan sastra. Itu berarti bahwa sosiologi sastra adalah suatu ilmu yang bersifat interdisipliner. 
Karya sastra sendiri merupakan sebuah dokumen sosial, Hal itu dikarenakan karya sastra memiliki unsur cerita/isi yang berkaitan dengan masalah sosial. Sastra juga mempunyai kemampuan untuk mencatat kenyataan sosiobudaya  suatu masyarakat pada masa tertentu. Baik sosiologi maupun sastra, keduanya memiliki kajian yang sama yaitu manusia dalam masyarakat.
Dalam paradigma studi sastra, sosiologi sastra dianggap sebagai sebuah pendekatan yang berkembang dari pendekatan mimetik. Damono via Wiyatmi (2013) mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat begitu saja jatuh dari langit, pasti ada hubungan antara sastrawan, sastra dan masyarakat.

Wilayah Kajian Sosiologi Karya Sastra

Wilayah kajian sosiologi sastra meliputu isi karya sastra, tujuan, serta hal lain dalam karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial. Karya sastra yang memiliki isi yang berkaitan dengan masalah sosial pada zamannya sering dipandang sebagai salah satu dokumen sosial. Sebagai dokumen sosial, sastra dapat digunakan untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial. Kajian pada sosiologi sastra tidak melihat karya sastra secara keseluruhan. Kajian sosiologi sastra hanya tertarik kepada isi sastra, yaitu unsur-unsur yang berkaitan dengan sosio-budaya yang terdapat dalam karya sastra. 

Strukturalisme Genetik dalam Sosiologi Sastra

Strukturalisme genetik adalah salah satu tipe sosiologi sastra yang memahami karya sastra dari asal-usul genetiknya (genetik). Kajian ini berangkat dari struktur karya sastra yang dipahami dalam hubungannya dengan struktur masyarakat dan pandangan dunia yang melahirkannya.
Pandangan strukturalisme genetik mengenai pengarang, Strukturalisme genetik mengkaji karya sastra dalam hubungannya dengan pandangan dunia kelompok sosial pengarang. Ciri khas strukturalisme genetik adalah memahami dan mengkaji karya sastra berdasarkan aspek genetik atau asal usulnya, yaitu dalam hubungannya dengan pengarang dan pandangan sosial historis yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. 
Ada beberapa konsep yang dipahami dalam strukturalisme genetik, yaitu pengarang sebagai subjek transidividual atau subjek kolektif, pandangan dunia, fakta kemanusiaan, struktur karya, dialektika, dan pemahaman-penjelasan. Berikut penjelasannya menurut Wiyatmi (2013):

Pengarang sebagai subjek transindividual atau subjek kolektif

Pengarang tidak dilihat sebagai seorang individu yang menciptakan karya sastrra seorang diri. Pengarang dianggap sebagai subjek transindividual/subjek kolektif, pengarang bukan semata-mata kumpulan individu yang berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas. Pengarang dilihat sebagai anggota kelompok sosial tertentu yang ada dalam masyarakat

Pandangan dunia dalam perspektif strukturalisme genetik 

Pandangan dunia adalah konsep yang menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang membedakannya dengan kelompok sosial yang lain. (Kesadaran kolektif)

Struktur Karya Sastra

Strukturalisme genetik, memandang karya sastra sebagai fakta sosial. Fakta sosial diartikan sebagai fakta (sesuatu hal) yang mempunyai peran dalam sejarah (Faruk, via Wiyatmi, 2013)
Dalam konsep strukturralisme genetik, struktur karya sastra bersifat tematik. Hal itu dikarenakan yang menjadi pusat perhatiannya adalah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada di sekitarnya. 

Dialektika: Pemahaman-Penjelasan

Metode ini merupakan cara memahami karya sastra yang ditandai dengan pasangan konsep: keseluruhan-bagian dan pemahaman-penjelasan. Berikut ini adalah pelaksanaan metode dialektika: (1) peneliti membangun sebuah model yang dianggap memberikan tingkat probabilitas tertentu atas dasar bagian, (2) lakukan pengeceka terhadap model itu dengan membandingkan bagian dengan keseluruhan dengan cara menentukan sejauh mana setiap unit yang dianalisis tergabungkan dalam hipotetis yang menyeluruh. (3) menentukan daftar elemen dan hubungan-hubungan baru yang tidak dilengkapi dalam model semula. (5) menentukan frekuensi elemen-elemen dan hubungan yang diperlengkapinya dengan model yang sudah di cek itu (Goldman via Wiyatmi, 2013)

Untuk lebih jelasnya silahka baca: Wiyatmi. 2013. Sosiologi Sastra: Teori dan Kajian terhadap Sastra Indonesia. Yogyakarta: Kanwa Publisher,

Minggu, 19 Oktober 2014

Kritik dengan Sosiologi Sastra

Kritik dengan Sosiologi Sastra

BULAN HERMENEUTIK

NOVEL REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU (RTDW)

TERE-LIYE

1.      LINGKARAN HERMENEUTIK

Entah apa yang menjadi dasar pemikiran Tere Liye ketika membuat judul Rembulan Tenggelam di Wajahmu karena sama seperti bentuk bulan yang melingkar, cerita yang dibangun oleh Tere Liye juga berputar-putar. Setiap fakta atau gagasan individu tokoh akan mempunyai arti hanya jika ditempatkan dalam keseluruhan potongan peristiwa yang disediakan. Sebaliknya, keseluruhan cerita menjadi sangat menarik untuk dipahami dengan bagian bagian parsial yang ditambahkan dalam bangunan cerita.
Karena keseluruhan tidak dapat dipahami tanpa bagian dan bagian tidak dapat dimengerti tanpa keseluruhan. Kebijaksanaan pengarang terlihat melalui cerita yang berputar. Ketika kejadian satu berkaitan erat dengan kejadian yang lain membentuk suatu amanat baru. Sang penulis berusaha mengajarkan kebijaksanaan dunia dalam jalan kehidupan dan takdir tokoh Rey yang disampaikan kepada pembaca oleh tokoh lelaki berwajah menyenangkan.
Di dalam novel ini, pengarang memberikan cerita mengenai hidup Rey dan permasalahan sosial yang dihadapinya. Penulis membingkai setiap kasusnya kedalam siklus yang berputar. Setiap permasalahan pasti ada solusinya begitulah yang ingin disampaikan penulis. Ia menyampaikan solusinya pada potongan-potongan di akhir cerita dan potongan tersebut mampu membuat pembaca lebih memahami jalan cerita.
Dalam dunia nyata, manusia sering melihat suatu permasalahan hanya dari sudut pandang subjektif dan sempit sehingga ia kurang mampu mengetahui kebijaksanaan yang terdapat di dalamnya. Sering kita melihat berita di media massa mengenai suatu problem sosial misalnya pencurian, pembunuhan, perjudian, kekerasan dalam rumah tangga, tawuran, penipuan, perampokan, dsb. Tindakan apa yang kita lakukan setelah mengetahui hal tersebut? Prihatin? Mengutuk Pelaku? Diam saja?
Pernahkah anda membaca berita tentang nenek pencuri singkong? Berita ini sempat menjadi trendingtopik dikalangan pengguna dunia maya. Bukan karena pelakunya adalah nenek-nenek atau karena barang yang dicurinya adalah sebuah singkong, namun karena keputusan hakim yang sangat bijaksana. Hakim tersebut mampu melihat persoalan sebenarnya, alasan kenapa sang nenek sampai melakukan hal itu. Nenek tersebut mencuri singkong demi memberi makan cucu-cucunya. Keputusan yang dibuat hakim pun bijaksana. Ia mendenda nenek tersebut sebesar 1 juta atau penjara 2,5 tahun. Namun setelah mengetok palu ia melepas topi toganya dan memasukan uang sebesar 1 juta. Kemudian ia juga mendenda setiap orang yang hadir di persidangan sebesar 50 ribu karena hidup dan tinggal di kota ini namun masih membiarkan seorang nenek kelaparan. Uang terkumpul 3,5 juta termasuk uang 50 ribu dari manager PT yang telah menuntutnya.
Apa alasannya nenek itu mencuri? Apa yang akan terjadi apabila ia dipenjara? Bagaimana nasib cucu-cucunya? Setiap peristiwa selalu berhubungan satu dengan yang lainnya.
Apabila kita bandingkan permasalahan sosial yang terdapat dalam novel RTDW misalnya kasus pencurian yang dilakukan tokoh Rey dengan kasus diatas, maka persamaanya yaitu karena kemiskinan. Ya, kemiskinan merupakan salah satu masalah klasik yang dihadapi negeri ini. Benarkah hanya kemiskinan? Beribu alasan yang melandasi kasus pencurian di dunia nyata. Ada pula yang sudah menjadikan pencurian sebagai pekerjaanya. Disinilah pentingnya kebijaksanaan menyikapi sebuah tragedi.
Masih banyak cerminan masalah sosial masyarakat kita dengan yang permasalahan sosial novel RTDW ini. Hal terpenting yang harus diperhatikan pembaca adalah setiap kasus itu berantai atau selalu berhubungan dengan hal lain yang belum diketahuinya. Tindakan yang dilakukan A terhadap B membawa pengaruh terhadap kehidupan B entah baik/buruk. Kelebihan pengarang dalam menghadapi reaksi berantai ini adalah pengarang mampu memutuskan titik ketika suatu perbuatan yang dinilai buruk ternyata berguna bagi orang lain. Seperti singkong yang dicuri sang nenek untuk cucu-cucunya. Diharapkan pembaca setelah membaca novel ini mampu meyikapi setiap perbuatan yang akan dilakukan, sedang dilakukan, dilakukan orang disekitarnya, dan yang sudah dilakukannya.






Contoh Analisis dengan Pendekatan Pragmatik

Contoh Analisis dengan Pendekatan Pragmatik

Analisis Keabsurdan “Tokoh Kita-Sang Misterius”dalam Cerpen “Tegak Lurus dengan Langit” Melalui Pendekatan Pragmatik


Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan pendidikan, moral, politik, agama, ataupun tujuan yang lain. Atau pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sesuatu hal yang dibuat atau diciptakan untuk mencapai atau menyampaikan efek-efek tertentu pada penikmat karya sastra, baik berupa efek kesenangan, estetika atau efek pengajaran moral, agama atau pendidikan dan efek-efek lainnya. Pendekatan ini cenderung menilai karya sastra berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut bagi pembacanya. Pendekatan ini menekankan strategi estetik untuk menarik dan mempengaruhi tanggapan-tanggapan pembacanya kepada masalah yang dikemukakan dalam karya sastra. Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan moral, agama maupun fungsi sosial lainnya.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Kajian Stilistika Sastra

Kajian Stilistika Sastra

Pengertian Stilistika


Leech & Short mengungkapkan bahwa stilistika merupakan kajian tentang stile, kajian terhadap wujud performasi kebahasaan khususnya yang terdapat di teks-teks kesastraan. Kini dalam kajian akademik pendekatan stilistika sering dibedakan ke dalam kajian bahasa sastra dan nonsastra (Nurgiyantoro, 2014: 75).
Kajian stilistika dimaksudkan untuk menjelaskan fungsi keindahan penggunaan bentuk kebahasaan tertentu mulai dari aspek bunyi, leksikal, struktur, bahasa figuratif, sarana retorika sampai grafologi. Selain itu, kajian stilistika juga bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa serta bagaimana pengarang mempergunakan tanda-tanda linguistik untuk memperoleh efek khusus (Nurgiyantoro, 2014: 75-76).

Unsur-unsur/aspek-aspek stile yang dapat dikaji dari sebuah karya sastra antara lain yaitu aspek bunyi, aspek leksikal, aspek gramatikal, aspek kohesi, pemajasan, penyiasatan struktur, dan citraan. 

A. Leksikal

Unsur leksikal mempunyai pengertian yang sama dengan diksi, yaitu yang mengacu pada penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang untuk mencapai tujuan tertentu (Nurgiyantoro, 2014: 172). Aspek leksikal dalam suatu cerpen dapat berupa bahasa kolokial, penggunaan bahasa lain (bahasa daerah maupun bahasa asing), kata-kata yang menyimpang, dan lain-lain. Kolokial adalah bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, bahasa percakapan, bukan bahasa tulis (Chaer & Agustina, 2010: 67).

B. Gramatikal

Dalam unsur stile, aspek gramatikal yang dimaksud adalah unsur sintaksis yang di dalamnya terdapat frase, klausa, dan kalimat. Aspek gramatikal juga menjadi penentu kelancaran suatu komunikasi bahasa. Jika kosakata yang dipakai sederhana dan didukung oleh struktur sintaksis yang juga sederhana, itu merupakan jaminan bahwa komunikasi bahasa akan lancar (Nurgiyantoro, 2014: 186-187).
Menurut Nurgiyantoro (2014: 191) unsur struktur yang dapat dijadikan fokus kajian adalah kompleksitas kalimat, jenis kalimat, dan jenis frasa dan klausa. Unsur-unsur tersebut dapat diambil sebagian maupun seluruhnya.

C. Kohesi 

Kohesi merupakan hubungan pertautan antarbagian dalam struktur sintaksis atau struktur wacana untuk menyampaikan muatan makna.  Makna inilah yang kemudian dicari dan berusaha dipahami oleh pembaca (Nurgiyantoro, 2014: 195).
Sedangkan koherensi adalah hubungan tertentu yang digunakan untuk mengaitkan antargagasan dalam sebuah ujaran secara eksplisit atau implisit (Yule via Nurgiyantoro, 2014: 196).
Kohesi dibedakan ke dalam macam-macam bentuk. Menurut Brown and Yule kohesi dibedakan ke dalam kategori eksplisit dan implisit beerdasarkan konkret tidaknya kehadirannya. Alwi dkk membedakan kohesi ke dalam hubungan perkaitan eksplisit dan implisit serta kohesi gramatikal dan leksikal. Sedangkan Leech and Short selain mengemukakan kohesi bersifat eksplisit dan implisit juga membedakannya ke dalam dua kategori, yaitu rujuk silang (cross-reference) dan sambungan (linkage) (Nurgiyantoro, 2014: 197).

D. Pemajasan 

Pemajasan (figurative language, figures of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan atau makna yang tersirat. Bentuk-bentuk pemajasan antara lain sebagai berikut.

1. Majas perbandingan 

Majas perbandingan adalah majas yang membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui ciri-ciri kesamaan antara keduanya. Bentuk perbandingan tersebut dilihat dari sifat kelangsungan pembandingan persamaannya dibedakan dalam bentuk simile, metafora, dan personifikasi.
a. Simile yaitu majas yang mempergunakan kata-kata pembanding langsung atau eksplisit untuk membandingkan sesuatu yang dibandingkan dengan pembandingnya.
b. Metafora adalah bentuk pembandingan antara dua hal yang dapat berwujud benda, fisik, ide, sifat, atau perbuatan dengan benda, fisik, ide, sifat, atau perbuatan lain yang bersifat implisit (Baldic via Nurgiyantoro, 2014: 224)
c. Personifikasi merupakan bentuk pemajasan yang memberi sifat-sifat benda mati dengan sifat-sifat kemanusiaan.
d. Alegori adalah sebuah sebuah cerita kiasa yang maknanya tersembunyi pada makna literal.

2. Majas pertautan 

Majas pertautan adalah majas yang di dalamnya terdapat unsur pertautan, pertalian, penggantian, atau hubungan yang dekat antara makna yang sebenarnya dimaksudkan dan apa yang secara konkret dikatakan oleh pembicara. Majas pertautan antara lain majas metonimi dan sinedoki.
a. Metonimi merupakan sebuah ungkapan yang menunjukkan adanya pertautan atau pertalian yang dekat antara kata-kata yang disebut dan makna yang sesungguhnya (Nurgiyantoro, 2014: 243).
b. Sinedoki adalah sebuah ungkapan dengan cara menyebut bagian tertentu yang penting dari sesuatu untuk sesuatu itu sendiri (Nurgiyantoro, 2014: 244).

E. Penyiasatan Struktur

Penyiasatan struktur (figuresbof speech) merupakan istilah lain dari sarana retorika, sering dikenal dengan sebutan gaya bahasa. Penyiasatan struktur bermain di ranah struktur, dimaksudkan sebagai struktur yang sengaja disiasati, dimanipulasi, dan didayakan untuk memperoleh efek keindahan. Dalam kaitannya dengan tujuan untuk mencapai efek retoris sebuah pengungkapan, penyiasatan struktur (rhetorical figures) lebih menonjol daripada pemajasan, namun keduanya dapat digabungkan dalam sebuah struktur (Nurgiyantoro, 2014:245-246).

1. Repetisi

Penyiasatan struktur yang banyak ditemukan dala, teks sastra adalah repetisi. Repetisi adalah bentuk pengulangan baik berupa pengulangan bunyi, kata, bentukan kata, frase, kalimat, maupun bentuk lain yang bertujuan memperindah penuturan. Bentuk-bentuk repetisi dapat mencakup berbagai unsur kebahasaan. Misal: bentuk repetisi, paralelisme, anafora, polisindenton, dan asindenton (Nurgiyantoro, 2014:247). Berikut beberapa bentuk stile repetisi :
a. Repetisi
Secara bentuk penyiasatan struktur yang mengandung unsur pengulangan adalah bagian dari repetisi. Gaya repetisi yang mengandung unsur pengulangan, misalnya kata-kata atau frase tertentu, yang dimaksudkan untuk menekankan dan menegaskan pentingnya suatu yang dituturkan. Kata atua kelompok kata yang diulang bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih, berada pada posisi awal, tengah atau di tempat yang lain (Nurgiyantoro, 2014:248).

2. Pengontrasan

Gaya pengontrasan atau pertentangan adalah suatu bentuk gaya yang menuturkan sesuatu secara berkebalikan dengan sesuatu yang disebut secara harfiah. Hal yang dikontraskan dapat berwujud fisik, keadaan, sikap dan sifat, karakter, aktivitas, kata-kata, dan lain-lain tergantung konteks pembicaraan. Berwujud majas hiperbola, litotes, ironi dan sarkasme (Nurgiyantoro, 2014:260).
a. Hiperbola
Gaya ini biasanya dipakai jika seseorang bermaksud melebihkan sesuatu yang dimaksudkan dibandingkan keadaan yang sebenarnya dengan maksud untuk menekankan penuturannya. Makna yang ditekankan atau dilebih-lebihkan sering menjadi tidak masuk akal untuk ukuran nalar biasa (Nurgiyantoro, 2014:261).

3. Susunan Lain

Penyiasatan struktur yang terlihat intensif dipergunakan adalah yang berbasis pada pengulangan. Masih ada stile bentuk penyiasatan struktur lain yang dipergunakan dalam teks sastra. Misalnya, gaya pertanyaan retoris, klimaks, antiklimaks, antitesis, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2014:271).
a. Pertanyaan Retoris
Pertanyaan retoris menekankan pengungkapan tentang gagasan atau sesuatu dengan menampilkan semacam pertanyaan yang sebenarnya tidak menghendaki jawaban. Pertanyaan yang dikemukakan telah dilandasi oleh asumsi bahwa hanya terdapat satu jawaban yang mungkin, di samping penutur juga mengasumsikan pembaca telah mengetahui jawabannya. Dimaksudkan untuk membangkitkan efek retoris yang mengena sekaligus untuk melibatkan pembaca atau pendengar baik secara rasional maupun emosional (Nurgiyantoro, 2014:271).

F. Citraan

Citraan merupakan penggunaan kata-kata dan ungkapan yang mampu membangkitkan tanggapan indra. Citra (image) dan citraan (imagery) menunjuk pada adanya reproduksi mental. Citra merupakan gambaran berbagai pengalaman sensoris yang dibangkitkan oleh kata-kata. Abrams; Kenny dalam Nurgiyantoro (2012:276) citraan merupakan kumpulan citra yang dipergunakan untuk menuliskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harafiah maupun kias. Citraan merupakan salah satu unsur stile yang penting karena berfungsi mengkonkretkan dan menghidupkan penuturan (Nurgiyantoro, 2014:275-276).
Citraan terkait dengan panca indra manusia, kelimajenis citraan itu adalah citraan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerak (kinestetik), rabaan (taktil termal) dan penciuman (olfaktori) (Nurgiyantoro, 2014:277).

a. Citraan visual

Citraan visual adalah citraan yang terkait dengan pengonkretan objek yang dapat dilihat oleh mata, dapat dilihat secara visual. Objek visual adalah objek yang tampak seperti meja, kursi, jendela, pintu, dan lain-lain. Benda-benda yang secara ilmiah kasat mata tersebut dapat dilihat secara mental lewat rongga imajinasi walau secara faktual benda-benda tersebut tidak ada di sekitar pembaca, lengkap dengan spesifikasi rinciannya merupakan objek penglihatan imajinatif yang sengaja dibangkitkan penulis (Nurgiyantoro, 2014:279).

b. Citraan Auditif

Citraan pendengaran (auditif) adalah pengonkretan objek bunyi yang didengar oleh telinga. Pembangkitan bunyi-bunyi alamiah tertentu lewat penataan kata-kata tertentu dapat memberikan efek pengonkretan dan alamiah sehingga penuturan terlihat lebih teliti dan meyakinkan (Nurgiyantoro, 2014:281).

c. Citraan Gerak

Citraan gerak (kinestetik) adalah citraan yang terkait dengan pengonkretan objek gerak yang dapat dilihat oleh mata. Penghadiran berbagai aktivitas baik yang dilakukan oleh manusia maupun oleh makhluk atau hal-hal lain lewat penataan kata-kata tertentu secara tepat dapat mengonkretkan dan menghidupkan penuturan sehingga terlihat lebih teliti dan meyakinkan (Nurgiyantoro, 2014:282).

d. Citraan Rabaan dan Penciuman

Citraan rabaan (taktil termal) dan penciuman (olfaktori) menunjuk pada pelukisan rabaan dan penciuman secara konkret walau hanya terjadi di rongga imajinasi pembaca. Keduanya dimaksudkan untuk mengonkretkan dan menghidupkan sebuah penuturan (Nurgiyantoro, 2014:283).

Selasa, 30 September 2014

Pendekatan Dalam Kajian Sastra

Pendekatan Dalam Kajian Sastra

Dalam mengkaji sebuah karya sastra, kita tidak dapat melepaskan diri dari cara pandang yang bersifat parsial, maka ketika mengkaji karya sastra, seringkali seseorang akan memfokuskan perhatiaanya hanya kepada aspek-aspke tertentu dari karya sastra. Aspek-aspek tertentu itu misalnya berkenaan dengan persoalan estetika, moralitas, psikologi, masyarakat, beserta dengan aspek-aspeknya yang lebih rinci lagi, dan sebagainya. Hal itu sendiri, memang bersifat multidimensional. Karena hal-hal di atas, maka muncul berbagai macam pendekatan kajian sastra.
Berikut pendekatan dalam kajian sastra:

1. Pendekatan Mimetik

Pendekatan mimetik adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra berupa memahami hubungan karya sastra dengan realitas atau kenyataan. Kata mimetik berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan. Dalam pendekatan ini karya sastra dianggap sebagai tiruan alam atau kehidupan (Abrams, 1981). Untuk dapat menerapkannya dalam kajian sastra, dibutuhkan data-data yang berhubungan dengan realitas yang ada di luar karya sastra. Biasanya berupa latar belakang atau sumber penciptaa karya sastra yang akan dikaji. Misal novel tahun 1920-an yang banyak bercerita tentang "kawin" paksa. Maka dibutuhkan sumber dan budaya pada tahun tersebut yang berupa latar belakang sumber penciptaannya.

2. Pendekatan Ekspresif

Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang dalam mengkaji karya sastra memfokuskan perhatiannya pada sastrawan selaku pencipta karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai ekspresi sastrawan, sebagai curahan perasaan atau luapan perasaan dan pikiran sastrawan, atau sebagai produk imajinasi sastrawan yang bekerja dengan persepsi-persepsi, pikiran atau perasaanya. Kerena itu, untuk menerapkan pendekatan ini dalam kajian sastra, dibutuhkan sejumlah data yang berhubungan dengan diri sastrawan, seperti kapan dan di mana dia dilahirkan, pendidikan sastrawan, agama, latar belakang sosial budayannya, juga pandanga kelompok sosialnya.

3. Pendekatan Pragmatik

Pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca. Dalam hal ini tujuan tersebut dapat berupa tujuan politik, pendidikan, moral, agama, maupun tujuan yang lain. Dalam praktiknya pendekatan ini cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu bagi pembacannya (Pradopo, 1994).
Dalam praktiknya, pendekatan ini mengkaji dan memahami karya sastra berdasarkan fungsinya untuk memberikan pendidikan (ajaran) moral, agama, maupun fungsi sosial lainnya. Semakin banyaknya nilai-nilai tersebut terkandung dalam karya sastra makan semakin tinggi nilai karya sastra tersebut bagi pembacannya.

4. Pendekatan Objektif

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada karya sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarangm maupun pembaca. Pendekatan ini juga disebut oleh Welek & Waren (1990) sebagai pendekatan intrinsik karena kajian difokuskan pada unsur intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

5. Pendekatan Struktural

Pendekatan struktural ini memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur karya sastra itu sendiri. Karya sastra dipandang sebagai sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, bebas dari pengarang, realitas maupun pembaca (Teeuw, 1984).
Dalam penerapannya pendekatan ini memahami karya sastra secara close reading. Atau mengkaji tanpa melihat pengarang dan hubunga dengan realitasnya. Analisis terfokus pada unsur intrinsik karya sastrra. Dalam hal ini setiap unsur dianalisis dalam hubungannya dengan unsur yang lain.

6. Pendekatan Semiotik

Dalam kajian sastra, pendekatan semiotik memandang sebuah karya sastra sebagai sebuah sistem tanda.Secara sistematik, semiotik mempelajari tanda-tanda dan lambang-lambang, sistem lambang, dan proses-proses perlambangan.
Pendekatan ini memandang fenomena sosial dan budaya sebagai suatu sistem tanda. Tanda tersebut hadir juga dalam kehidupan sehari misal: bendera putih di depan gang, maka orang akan berpikir ada salah satu keluarga yang sedang ada yang berduka. contoh lain adalah mendung: orang akan berpikir hujan akan segera turun sebentar lagi. Tentu saja untuk memahaminya dibutuhkan pengetahuan tentang latarbelakang sosial-budaya karya sastra tersebut dibuat.
Tanda, dalam pendekatan ini terdiri dari dua aspek yaitu: penanda (hal yang menandai sesuatu) dan petanda (referent yang diacu).

7. Pendekatan Sosiologi Sastra

Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik. Pendekatan ini memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatannya. Pendekatan ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat lepas dari realitas sosial yang terjadi di suatu masyarakat (Sapardi Djoko Damono 1979).

8. Pendekatan Resepsi Sastra

Resepsi berarti tanggapan. Dari pengertian tersebut dapat kita pahami makna resepsi sastra adalah tanggapan dari pembaca terhadap sebuah karya sastra. Pendekatan ini mencoba memahami dan menilai karya sastra berdasarkan tanggapan para pembacanya.

9. Pendekatan Psikologi Sastra

Wellek & Waren (1990) mengemukakan empat kemungkinan pengertian. Pertama adalah studi psikologi pengarang sebgai tipe atau pribadi. Kedua studi proses kreatif. Ketiga studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan dalam karya sastra.
Pengertian keempat menurut Wellek & Waren (1990) terasa lebih dekat pada sosiologi pembaca. 

10. Pendekatan Moral

Di samping karya sastra dapat dibahas dan dikritik berdasrkan sejumlah pendelatan yang telah diuraikan sebelumnnya, karya sastra juga dapat dibahasa dan dikritik dengan pendekatan moral. Sejauh manakah sebuah karya sastra menawarkan refleksi moralitas kepada pembacanya. Yang dimaksudkan dengan moral adalah suatu norma etika, suatu konsep tentang kehidupan yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnnya. Moral berkaitan erat dengan baik dan buruk. Pendekatan ini masuk dalam pendekatan pragmatik

11. Pendekatan Feminisme

Pendekatan feminisme dalam kajian sastra sering dikenal dengan nama kritik sastra feminis. Pendekatan feminisme ialah salah satu kajian sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandan eksistensi perempuan, baik sebagai penulis maupun dalam karya sastra (Djananegara, 2000:15).










Senin, 29 September 2014

Kajian Sastra

Kajian Sastra

Pengertian Kajian

Kata "kajian" memiliki kaitan paling dekat dengan kata "penelaahan", kemuduan "penyelidikan". Bila mendengar kata "pemeriksaan" misalnya, pikiran kita akan cenderung tertuju pada upaya penanganan kasus yang berkaitan dengan tindak kriminalitas. Beda halnya bila kita mendengar kata "penelaahan","penelitian", dan "pengkajian". Penyebutan tiga kata tersebut mengajak pikiran kita ke dalam dunia ilmu pengetahuan. Dalam hal kata "penyelidikan", konteks bisa mempengaruhi arah maknanya, apakah dalam pengertian "pelajaran yang mendalam" atau dalam rangka melakukan pelacakan atau pengusutan.
Dari uraian tersebut menunjukan bahwa kata "kajian" memiliki pengertian yang luas, yaitu berkaitan dengan "penyelidikan", "penelaahan", dan juga "penelitian". Uraian tentang "pengkajian" selalu mengarah ke dunia pendidikan, baik dalam arti pelajaran maupun pembahasan tentang ilmu pengetahuan. (Wiyatmi, 2009:14)

Pengertian Sastra

Pengertian Kajian Sastra

Seperti yang tertulis di atas, kajian didefiniskan sebagai proses, cara, perbuatan mengkaji; penyelidikan; penelaahan. Dengan demikian, kajian sastra bisa diartikan sebagai proses atau perbuatan mengkaji, menyelidiki, dan menelaah objek material yang bernama sastra. (Wiyatmi, 2009:14)