Kamis, 13 Oktober 2016

Teks Eksposisi

Teks Eksposisi

Eksposisi berarti memaparkan. 

Teks eksposisi adalah teks yang menyingkapkan atau memaparkan pikiran, ide, gagasan, perasaan, penulis agar pembaca dapat mengetahuinya. 
Buah pikir, ide, gagasan, perasaan, yang paparkan oleh penulis disebut tesis 'tema'. Tesis ini adalah inti dari sebuah teks eksposisi. Tesis dapat diungkapkan secara tersurat di dalam sebuah kalimat ataupun secara tersirat. Sebuah contoh: seorang penulis menyampaikan buah pikir nya tentang bahaya laten korupsi dalam sebuah tulisan, maka secara otomatis itulah tesis sang penulis. 
Karena yang bagian utama dalam sebuah teks eksposisi adalah tesis, maka penulis harus memberikan wacana yang mampu mendukung tesisnya, atau membuktikan tesisnya. 
Apabila penulis hendak menyampaikan tesisnya yang berupa bahaya laten korupsi, maka penulis juga harus memberikan argumentasi ataupun membuktikan bahwa korupsi itu berbahaya. Bukti tersebut misalnya, (1) ada paragraf yang menerangkan terlambatnya pembangunan infrastruktur suatu tempat akibat korupsi, (2) dengan pembangunan terganggu, pertumbuhan ekonomi di tempat itu juga tergannggu, (3) yang pada akhirnya ada paragraf yang menerangkan kerugian masif akibat 1 korupsi.
Argumentasi atau uraian-uraian pendukung, dalam teks eksposisi biasanya disebut kelas-kelas semakin baik penulis menguraikan kelas-kelas, semakin baik pula teks eksposisi yang dibuat. Perlu diperhatikan juga bahwa penulisan tiap-tiap kelas hendaknya sebuah paragraf yang berbeda.

Akhir dari tulisan teks eksposisi adalah sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini diambil dari argumentasi  (kelas-kelas) yang telah disampaikan. Kesimpulan yang diambil haruslah kesimpulan yang mendukung tesis.

Kerangka Teks Eksposisi

Dari pemaparan yang telah disampaikan sebelumnya, gambarkan kerangka teks eksposisi adalah sebagai berikut:
1. Tesis 
2. Kelas-kelas (argumentasi)
- kelas-kelas 1
- kelas-kelas 2
- kelas-kelas 3, dst
3. Kesimpulan

Sifat Polemis Teks Eksposisi

Hampir semua teks eksposisi dapat dibuatkan eksposisi tandingan. Isi dari teks eksposisi tidak selalu dapat diterima oleh pembacannya. Hal karena teks eksposisi dapat mengandung sifat polemis. Coba kita lihat kembali contoh tesis bahaya laten korupsi tidak semua pembaca akan setuju dengan penulis. Ada yang beranggapan bahwa korupsi adalah oli pembangunan. Dengan tidak adanya korupsi maka tidak ada pembangunan. Ataupun misalnya ada pembangunan maka hal itu terhambat karena yang berkepentingan mempersulit karena tidak mendapatkan apa-apa. 

Manfaat Pembelajaran Teks Eksposisi

Eksposisi merupakan pola dasar penulisan ilmiah. Eksposisi juga sangat erat hubungannya dengan proses berpikir logis dan sistematis. Pembelajaran teks eksposisi mampu melatih siswa untuk mengambil sikap, sekaligus mendukung sikap itu dengan mengutarakan gagasan secara logis. 


Contoh Teks Eksposisi:

BAHAYA LATEN KORUPSI

(Tesis)
Korupsi merupakan tindakan dapat menyebabkan kerusakan masif. Korupsi adalah kegiatan secara bersembunyi sembunyi, untuk mengurangi apa yang semestinya demi kepentingan pribadi ataupun golongan. Bahaya korupsi bersifat laten namun pasti.
(Kelas-kelas) I
Sebuah korupsi kecil dapat membawa dampak yang besar. Lihat kasus robohnya gedung Wei Guan Golden Dragon di Taiwan misalnya. Peristiwa tersebut menewaskan 35 orang. Akar dari masalah ambruknya gedung tersebut adalah karena beton yang seharusnya dicor dengan semen justru diisi dengan kaleng minyak. Tentu saja dana untuk membeli semen lebih mahal dibandingkan dengan kaleng minyak bekas. Namun kekuatan struktur gedung menjadi lemah. Alhasil hanya karena gempa kecil gedung tersebut roboh. Gedung itu adalah satu-satunya gedung yang roboh.
(Kesimpulan)
Dengan contoh kasus yang telah dipaparkan. Jangan anggap lagi korupsi  sebagai kejahatan sepele. Korupsi kecil pun bisa merupakan kejahatan yang berdampak masif. Karena korupsi menyimpan bahaya laten. Artinya bahaya korupsi tidak terlihat namun menyimpan potensi bahaya yang besar.


Acuan Pustaka:
Marahimin, Ismail. 2008. Menulis Secara Populer. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Rabu, 12 Oktober 2016

Teks Deskripsi

Teks Deskripsi 

Deskripsi ialah pemaparan atau penggambaran degan kata-kata suatu benda, tempat, suasana atu keadaan. Teks deskripsi ditulis untuk menggabarkan apa yang dilihat, didengar, dicium, atau yang dirasakan hingga kesimpulan penulis terhadap suatu objek. Karena itu, teks deskripsi merupakan suatu hasil observasi pancaindra yang kemudian disampaikan penulis kepada pembaca melalui kata-kata. Kualitas teks deskripsi sangat dipengaruhi oleh tingkat pengamatan penulis. 
Secara garus besar, teks deskripsi dibedakan menjadi dua macam.

Teks Deskripsi Ekspositori

Deskripsi ekspositori biasanya isinya merupakan daftar rincian objek yang disusun menurut sistem dan urutan yang logis. Setiap objek memiliki urutan logikanya sendiri-sendiri. Misalnya mendeskripsikan orang, tentunya logis apabila diurutkan dari atas ke bawah terlebih dahulu. 
Deskripsi ekspositori biasanya juga digunakan untuk mendeskripsikan suatu proses. Proses tersebut biasanya juga memiliki urutan logisnya. Misalnya kita hendak mendeskripsikan proses menanak nasi, tentunya penulis harus mengikuti tahapan-tahapan yang dilakukan dalam proses menanak nasi.


Teks Deskripsi Impresionistis

Deskripsi impresiuonistis juga biasa disebut deskripsi stimulatif. Tulisan ini menggambarkan impresi/kesan penulisnya. Tulisan ini tidak terikat pada objek yang dideskripsikan, akan tetapi lebih mendahulukan impresi penulis terhadap objek ketika melakukan observasi. 
Dalam menulis teks jenis ini, urut-urutan yang digunakan bukan lagi urutan logika, akan tetapi kuat lemahnya kesan penulis terhadap objek yang diamati. Misalnya saja seseorang hendak mendeskripsikan rumah barunya, atau rumah temannya, kesan apa yang ingin ditonjolkan penulis? Bisa saja kebersihanya, strukturnya, atau lokasinya. 

Yang Perlu Diperhatikan dalam Menulis Teks Deskripsi

Dalam menulis teks deskripsi, ada hal yang harus diperhatikan oleh penulis yaitu: fakta. Karena teks deskripsi merupakan hasil dari observasi panca indra, maka penulis harus mengutarakan fakta yang ia dapatkan dalam observasinya. Bedakan antara fakta dan realita. Apalagi aneh tapi nyata! Untuk membedakannya, lihat contoh di bawah!

Membedakan Teks: Fakta / Realita/ Aneh tapi nyata.
Teks 1
Di jakarta banyak kampung kumuh, kebersihan tidak terjaga. Banyak rumah-rumah sempit di pinggir sungai. Selain kampung kumuh, masih banyak sungai yang penuh sampah. Pekerjaan penduduk yang tinggal di kampung kumuh tersebut juga tidak menentu.

Teks 2
Ketika saya di Jakarta, saya melihat rumah reyot di pinggir sungai. Rumah itu terkesan hampir rubuh. Dindingnya terbuat dari kayu dan terlihat sudah lapuk. Atapnya sudah banyak yang hilang. Di sana tinggal laki-laki berbadan kurus dengan pakaian compang-camping. 

Bandingkan contoh teks 1 dan teks 2. Teks pertama penulis mendeskripsikan hal-hal yang benar. Hal yang  dideskripsikan oleh penulis dan juga dapat dibuktikan kebenarannya. Tanpa dibuktikan pun orang-orang sudah tahu. Tulisan seperti ini dinamakan realita.

Dalam teks yang kedua, penulis mendeskripsikan hal-hal yang dilihatnya pada waktu di Jakarta. Pembaca harus percaya terhadap tulisan tersebut semasa tulisan tersebut masih masuk akal/ sesuai dengan realita.

Tulisan menjadi "aneh tapi nyata" apabila penulis kedua menambahkan bahwa di sana tinggal laki-laki berbadan tegap dan kekar dengan memakai jas dan mobil mewah. Hal itu menjadi sulit di nalar (aneh) karena rumah reyot pinggir sungai ditinggali laki-laki tegap memakai jas dan punya mobil. Tapi hal itu juga bisa saja terjadi mengingat baru saja diberitakan di televisi mengenai pengemis tertangkap membawa uang tunai 90 juta (tidak percaya? klik ini.

Acuan Penulisan:
Marahimin, Ismail. 2008. Menulis Secara Populer. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Kamis, 06 Oktober 2016

Pembelajaran Membaca Teks Drama di Sekolah

Pelaksanaan Pembelajaran Membaca Teks Drama di Kelas VII

Pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya merupakan perpaduan antara pemilihan bahan ajar yang merupakan aspek isi dan metode pembelajaran yang sengaja disesain untuk membantu peserta didik meraih kompetensi yang dibelajarkan (Nurgiyantoro, 2013:15). Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pembelajaran membaca teks drama pada kelas VIII semester I memiliki aspek isi yang harus dibelajarkan yaitu mampu memahami unsur intrinsik teks drama. Hal itu tercantum dalam “Standar Kompetensi 7. Memahami teks drama dan novel remaja”, dengan “Kompetensi Dasar 7.1. Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama”. 

Drama memiliki dua bentuk, yaitu drama yang berwujud teks tertulis dan drama yang dipentaskan. Teks drama merupakan semua teks yang menghadirkan dialog antarpembicara yang isinya menghadirkan suatu alur dan tiap tokoh dibiarkan berbicara sendiri secara langsung kepada pembaca tanpa perlu saling mengutip kata dari pembicara lain (Nurgiyantoro, 2014:345). Perbedaan drama yang berwujud teks dengan drama yang dipentaskan adalah bahwa dalam drama pentas telah terjadi penafsiran kedua, yaitu baik sutradara ataupun pemain harus terlebih dahulu menafsirkan teks tertulis dan kemudian menampilkannya dalam bentuk drama pentas (Nurgiyantoro, 2014:345). Hal itu juga dapat berarti bahwa pembelajaran membaca teks drama untuk memahami unsur-unsur intrinsiknya berbeda dengan pembelajaran menonton drama. 

Apa saja unsur-unsur intrinsik teks drama? Berikut ini adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam teks drama:

1)      Plot atau Alur Cerita

Plot adalah urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir (Nurgiyantoro, 2012:12). Penyajian alur dalam drama diwujudkan dalam urutan babak dan adegan. Babak ialah bagian terbesar dalam sebuah lakon. Plot juga dapat diibaratkan sebagai ranka cerita. Dalam drama plot biasannya merupakan susunan empat bagian: (1) Protasis/ permulaan, (2) Epitasio/ jalinan kejadian, (3) Catastasis/ puncak laku, (4) Catasthrope/ penutupan (Harymawan, 1988:26).
Dalam drama dikenal ada tiga jenis alur cerita. (1) Alur linier memiliki kejadian berurutan dari awal (eksposisi, komplikasi), tengah (konfliks dan klimaks) dan akhir (resolusi). (2) Alur mundur diawali dengan akhir cerita atau penyelesaian, baru kemudian dirunut peristiwanya mengapa hal itu terjadi. Sedangkan (3) alur episodik, ketika cerita berupa episode atau bagian-bagian peristiwa yang saling berhubungan (Suroso, 2015:14).

2)       Tema

Tema merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah karya sastra. Meskipun menjadi bagian terpenting dalam karya sastra, tema bukanlah sesuatu yang diungkapkan secara langsung oleh pengarang. Stanton (2012:7-8) mengungkapkan bahwa wujud tema sangatlah beragam. Tema dapat berwujud satu fakta dari pengalaman kemanusiaan yang digambarkan atau dieksplorasi oleh cerita seperti keberanian, ilusi, dan masa tua. Bahkan, tema juga dapat berupa gambaran kepribadian dari salah satu tokoh. Tema adalah unsur yang membentuk kebersatuan pada cerita dan memberi makna dalam setiap peristiwa

3)      Penokohan

Istilah “tokoh” mengacu kepada orang atau pelaku cerita, sedangkan istilah “penokohan” memiliki arti yang lebih luas daripada “tokoh” karena ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita , bagaimana perwatakannya, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2012:166).
Tokoh dalam drama  dibagi menjadi dua jenis yaitu berdasarkan perananya terhadap jalan cerita dan berdasarkan perananya dalam lakon serta fungsinya.
Berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita, terdapat tokoh: (1)  tokoh protagonis yaitu tokoh yang mendukung cerita. Biasanya ada satu atau dua figur tokoh protagonis utama yang dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita, (2) tokoh antagonis yaitu tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita dan beberapa figur pembantu yang ikut menentang cerita, (3) tokoh tritagonis yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis maupun tokohh antagonis (Waluyo, 2001: 16).
Berdasarkan peranannya dalam lakon serta fungsinya, maka terdapat tokoh: (1)  tokoh sentral yaitu tokoh-tokoh paling menentukan gerak lakon. Mereka merupakan proses pertukaran lakon, tokoh sentral adalah biang keladi tokoh pertikaian. (2)  Tokoh utama yaitu tokoh-tokoh pendukung atau penentang tokoh sentral dapat juga sebagai medium atau perantara tokoh sentral, (3) tokoh pembantu yaitu tokoh-tokoh yang memegang peranan  pelengkap atau tambahan dalam mata rangkai cerita (Waluyo, 2001: 17).

4)    Latar

Latar ialah lingkangan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, tahun), cuaca, atau satu periode sejarah (Stanton, 2012:35).
Menurut Nurgiyantoro (2012), latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar menyangkut tiga unsur, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan, latar tempat dapat berupa nama-nama tempat, inisial tertentu, ataupun lokasi tertentu meskipun tanpa diberi kejelasan nama tetapi dengan menyebut sifat-sifat umum dari tempat tersebut.
Latar waktu berhubungan dengan kapan terjadinya peristiwa-peristiwa itu diceritakan. Latar waktu juga dapat berupa tempat terjadinya peristiwa secara historis. Berbeda dengan latar tempat dan waktu, Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sosial tempat yang diceritakan. Latar ini dapat berupa adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup dan lain-lain.
Dalam naskah drama, penulis naskah ada yang menggambarkan setting secara detil namun juga dengan sederhana sehingga menimbulkan imajinasi pembaca (Suroso, 2015:15).

5)    Dialog

Dialog merupakan salah satu ciri khas naskah drama. Dialog mengandung kata kunci yang menggambarkan ciri dan keinginan tokoh. Panjang atau sedikitnya dialog setiap tokoh tergantung kepada banyak atau sedikitnya pemikiran yang akan disampaikan tokoh tersebut (Suroso, 2015:16)

6)    Petunjuk Lakuan/ Petunjuk Teknis

Teks Drama berbeda dengan teks fiksi dan puisi. Hal yang membedakan naskah drama dengan teks fiksi menurut Suroso (2015:18) adalah (1) terletak pada pemakaian petunjuk lakuan dan dialog; (2) dari segi penggambaran watak, watak tokoh dalam teks drama dideskripsikan oleh tindakan dan motivasi tokoh ketika berdialog dengan tokoh lain, (3) dari segi bahasa, teks drama memiliki bahasa yang cenderung lisan, seperti orang berbicara.

Bagaimana seharusnya pembelajaran membaca drama? Menurut Alder dan Charles (2011:272), drama adalah sebuah karya imajinasi. Untuk membacanya, pembaca harus bersikap aktif untuk menciptakan latar belakang, dunia tempat tokoh-tokoh itu hidup dan bergerak. Satu hal penting dalam membaca sebuah drama yaitu, kita tidak membaca sebuah karya yang lengkap. Drama yang lengkap hanya dipahami jika itu dilakonkan di atas panggung. Seperti sebuah musik yang harus didengar, drama tidak memiliki dimensi fisik jika hanya dibaca di dalam buku. Sang pembaca harus menyediakan dimensi itu. Cara menyediakannya adalah dengan berpura-pura melihatnya dilakonkan.



Selasa, 27 September 2016

Contoh Teks Drama : POLITIK LUPA

 POLITIK LUPA

D.Y


Tokoh:
Mbah Bagus                Mbah Yadi      Mas Tejo
Mbah Karyo                Mas Karno
Mbah Sup                    Mas Sadi


PROLOG

Disuatu desa terpencil, hiduplah mantan anggota PETA. PETA adalalah  kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Tentara PETA telah berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Organisasi ini telah dibubarkan pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ada beberapa kelompok orang-orang yang tergabung dalam PETA yang tidak benar-benar bubar. Mereka tetap bersatu dan hidup bertetangga hingga usia yang sudah senja ini. Sebagai salah satu pasukan pembela tanah air, mereka sangat suka meMbahas tentang perjalanan bangsa ini, khususnya dalam bidang politik.

Seting              : Di sebuah pelataran di depan rumah Mbah Sup. 

Mbah Bagus    : Mbah Sup, masih ingat pesan bung Karno?
Mbah Sup        :  Ya masih to, Mbah bagus. Monggo diminum kopinya, nanti dingin          
Mbah Bagus    : Saya jadi kepingin tahu, bagaimana ya reaksi beliau melihat politik negeri ini. (sambil meminum kopi)
Mbah Karyo    : Assalamualaikum, selamat sore Mbah Bagus, Mbah Sup, jangan lupa nanti ada  Kenduri di rumahnya mas Karno.
Mbah Sup        : Iya... sampeyan bisa datang?
Mbah Karyo    : Ya bisa dong, masa tanya begitu sama yang ngabari sampeyan, gimana toh?
Mbah Bagus    : Haiah Yo...Karyo sampeyan itu kan pelupa.
Mbah Bagus    : Kenduren kemarin kamu tidak datang kenapa?
Mbah Sup-Mbah Bagus : (tertawa)
Mbah Karyo    : Wah kalau itu saya lupa Mbah Bagus.
Mbah Sup        : Tuh, sampeyan sendiri yang bilang.
Mbah Karyo    : Ngomong-ngomong tadi sampeyan sedang bahas apa?
Mbah Sup        : Ini.. tadi Mbah Bagus kepingin tahu. Pendapat kamu tentang politik.
Mbah Karyo    : Wah saya seneng nih kalau debat seperti ini. Politik ya? Politik itu kata yang berasal dari   bahasa Yunani. Artinya dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Politik juga dapat diartikan kebijaksanaan. (Dengan bangga)
Mbah Bagus    : Wes...wes...wes.. mulai kemintere.
Mbah Karyo    : Elhoh.... memangnya saya salah?
Mbah Sup        : Endak salah Mbah Karyo, bener. Cuma yang saya tanyakan bukan arti, apalagi asal-usul katanya Mbah. Tadi Mbah Bagus kepingin tahu pendapat kamu tentang politik sekarang ini.
Mbah Bagus    : Makanya cermati dulu pertanyaannya!
Mbah Karyo    : Oh begitu. Kalau menurut saya, politik negara ini baik-baik saja. Politik itu kan artinya bijaksana, jadi orang-orang berpolitik itu ya harus bijaksana.
Mbah Sup        : Contohnya Mbah Karyo?
Mbah Karyo    : Nah... contohnya waktu pemilihan apa itu, pokoknya yang banyak partainya itu lho.. Orang-orang dari partai-partai itu sangat perhatian. Mereka tahu kesusahan kita sebagai orang kecil. Saya saja sampai dapat enam amplop. Totalnya tiga ratus ribu. Hoo.. lumayan to?
Mbah Bagus dan Mbah Karyo : hehehe diterima to...(nyengir)
Mbah Sup        : Kalau menurut Mbah Bagus, politik negeri ini bagaimana?
Mbah Bagus    : Kalau menurut saya... politik jaman sekarang itu mirip Mbah Karyo.
Mbah Sup        : Lhoh kok bisa?
Mbah Karyo    : Maturnuwun Mbah Bagus, sampean ndak seperti biasanya...
Mbah Sup        : Biasannya gimana maksudnya Mbah?
Mbah Karyo    : Itu, biasanya Mbah Bagus itu kan judes kalau sama saya, hehehe.
Mbah Bagus    : Hmmm...saya itu belum selesai ngomongnya. Sudah nyrocos saja kalian itu.   Begini lho maksudku. Politik itu seperti Mbah Karyo. Keminter dan Pelupa.
Mbah Karyo    : Oalah wes podo biasane..
Mbah Bagus    : Baca berita pagi tadi endak?Itu lho... yang tentang ricuh di DPR
Mbah Sup        : Baca Mbah.
Mbah Bagus    : Saya baca itu hawanya emosi saja. Mereka bilang rokyat...rakyat...rokyat... rakyat. Tapi kok kenyataanya, tindakan mereka cuma buat kepentingannya sendiri. Saya sebagai orang tua merasa mangkel. Bocah enom saiki kok seperti itu. Kalau saya boleh bilang, generasi yang jadi pemimpin ini banyak yang berasal dari generasi kecolongan, generasi gagal atau lost generastion. Apa mereka pikir negara ini punya mereka? Lupa mereka kalau kita masih hidup!
Mbah Sup        : Saya setuju Mbah.
Mbah Karyo    : Kalau itu saya juga setuju.
Mbah Bagus    : Setuju apa Yo? Yang mana?
Mbah Karyo    : Yang itu Mbah.. yang suka nyolong tadi. Nyolong kan maksudnya suka  korupsi to?
Mbah Bagus    : Ya...Yo Wes
Mbah Sup        : Kalau Pelupa maksudnya apa?
Mbah Bagus    : Politik sekarang itu pelupa. Politikus-politikus itu sudah lupa dengan tujuan politik. Masyarakat itu sekarang sudah banyak yang tidak percaya dengan politikus.
                        Politik sekarang sudah lupa mana yang benar, mana yang salah. Adanya Cuma bagi-bagi kepentingan. Lihat aja itu koalisi-koalisi di DPR. Mereka lupa, bahwa mereka disana itu sebagai pelayan masyarakat. (berapi-api)
                        Saya salut Mbah Sup sama sampean... sudah di usia senja seperti sekarang sampean tidak lupa pesan Bung Karno.
Mbah Sup        : Iya Mbah Bagus, tentu saja saya masih ingat pesan bung Karno. Wong baru saja tadi sore di SMS, cuma saya lupa HP saya taruh di mana ya? (kebingungan)
Masih di pelataran rumah Mbah Sup. Ketika Mbah Sup, Mbah Karyo dan Mbah Bagus sedang asyik bercakap-cakap, datanglah Mas Karno.
Mas Karno      : Mbah...mbah ada kabar lelayu. (teriak dan tergesa-gesa)
Mbah Bagus    : Sinten Mas Karno yang meninggal?
Mas Karno      : Itu.... Mbah Yadi.
Mbah Sup        : Elhah meninggalnya kenapa Mas Karno? Kemarin saya ketemu masih seha-sehat saja kok.
Mas Karno      :  Tadi katanya bunuh diri... tertabrak kereta Mbah Sup.
Mbah Bagus    : Welah ... bunuh diri kenapa? Mbah Yadi itu kan endak ada masalah sama siapa-siapa to?
Mbah Sup        : Sepertinya memang endak ada masalah Mbah.
Mbah Karyo    : Wah sampeyan ini sok tahu semuanya. Kalau yang namanya orang punya masalah ya mana mau cerita. Apalagi kalau masalahnya berhubungan dengan aib.
Mbah Bagus    : Mbah Karyo tahu masalahnya apa?
Mbah Karyo    : Ya jelas, endak tahu saya.
Mbah Bagus    : Heleh...
Mas Karno      :  Ya sudah Mbah, saya lanjut lagi, mau ngabari tetangga yang lain
Mbah Sup        :Ya mas, monggo
Mas Sadi         : Mbah-mbah sudah tahu ada kabar lelayu? (Masuk sambil berlari tergesa-gesa setelah Mas Karno pergi)
Mbah Bagus    : Sudah Mas Sadi, tadi dikabari sama Mas Karno
Mbah Karyo    : Mas Sadi tahu kenapa Mbah Yadi bunuh diri?
Mas Sadi         : Endak tahu mbah Sup. Tapi katanya gara-gara anaknya hamil.
Mbah Karyo    : Hamil sama siapa Mas Sadi?
Mas Sadi         : Wah saya kurang tahu..
Mbah Karyo    : Wah jangan-jangan...
Mbah Bagus    : Jangan-jangan apa Mbah?
Mbah Karyo    : Endak.. jadi mbah, saya endak mau suudzon.
Mas Sadi         : Ya sudah mbah-mbah, saya mau lanjut mengabari warga yang lain.
Mas Tejo         : Selamat sore mbah-mbah. Sudah tahu, ada yang meninggal? (Jalan dengan santai)
Mbah Bagus    : Sudah! Kamu dapat kabar dari siapa Jo?
Mas Tejo         : Wah saya disana Pas Mbah Yadi tertabrak. Saya itu yang pertama nolong Mbah Yadi.
Mbah Sup        : Gimana Jo? Tahu kenapa Mbah Yadi bunuh diri?
Mas Tejo         : Wah itu dia Mbah...
Mbah Sup        : Itu dia? Maksudnya
Mas Tejo         : Mbah Yadi sempat ngomong sama saya sebelum meninggal.
Mbah Karyo    : Apa Jo masalahnya?
Mbah Bagus    : Stt... diam dulu to Mbah Karyo!
Mbah Sup        : Sepertinya Mbah Yadi kan endak ada masalah Jo.
Mas Tejo         :Iya Mbah, bener. Saya itu bingung Mbah Yadi itu bunuh diri atau tidak...
Mbah Bagus    : Lho kok bingung? Mbah Yadi ngomong apa?
(Hantu Mbah Yadi masuk panggung)
Mas Tejo         :Tadi beliau bilang....
Mbah Yadi      : Saya tadi itu rencananya mau naik kereta Mas Tejo, tapi Saya lupa kalau kereta itu endak mau distop seperti taksi.
Mbah Sup, Mbah Bagus, Mas Tejo : (Lari)
Mbah Karyo    : O...gitu to Mbah. Wah berarti lupa itu memang berbahaya nggih Mbah?

. Mbah Yadi    : Iya Mbah Karyo... saya setuju.

Pengertian dan Contoh Teks Anekdot

Pengertian Anekdot

Anekdot adalah istilah yang sering dipakai untuk menceritakan kisah atau pengalaman lucu, menarik, ataupun mengesankan. Biasanya, penulisan anekdot berdasarkan pengalaman orang lain ataupun pengalaman penulis. 
Syarat cerita anekdot haruslah sederhana dan singkat, dan langsung. Artinya, mulai dari permulaan dan berakhirnya cerita tidak menggunakan kilas-balik. Dialog dan deskripsi singkat situasi boleh dimasukan dalam karangan anekdot. 

Contoh Teks Anekdot

CERITA HOROR DI PUSAT KEGIATAN MAHASISWA

Oleh: D.Y

            Ada empat orang sahabat kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Jurusan yang mereka ambil adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mereka adalah Susi, Dewi, Ratna, dan Sinta. Sebagai sahabat, mereka saling berbagi apa yang mereka miliki. Mereka selalu ada di saat suka maupun duka. Empat serangkai ini memiliki hobi yang cukup aneh yaitu suka hal-hal yang berbau mistis. Mereka suka meneliti tempat-tempat yang dianggap angker untuk dijadikan sebuah cerita horor. Bukan hanya itu kebiasaan mereka, empat sahabat itu juga sering berbagi cerita-cerita horor satu sama lain.

            Diantara ketigannya, Susi lah yang paling getol bercerita. Seperti biasa, pada jam-jam kosong menjelang perkuliahan berikutnya, mereka asyik ngerumpi.       
“Heh ... teman-teman, sudah dengar info pengendara mio tanpa kepala yang sering muncul baru-baru ini?” kata Susi.
“Sudah...” jawab Dewi, Ratna, dan Sinta serempak.
“Nggak nyata itu.” seloroh Dewi.
“Kalau suara-suara mistis di Pendopo Tejokusumo sudah pernah tahu?” tanya Susi.
“Sudah..., sudah lama kamu cerita itu.” Jawab Dewi
“Emm apalagi ya...” pikir Susi.
“Kalau kisah horor kamar mandi perempuan Pusat Kegiatan Mahasiswa  lantai tiga sudah pernah dengar?” kata Susi lagi.
“Belum...belum gimana ceritannya?” kata Sinta dengan muka berharap.
“Ah nggak seru kalau aku ceritain. Pokoknya horor, bener-bener horor. Mending nanti sore, pukul 18.00 kalian langsung buktikan sendiri!” kata Susi dengan percaya diri menantang teman-temannya.
Seperti yang dikatakan Susi, ketiga temannya datang ke Pusat Kegiatan Mahasiswa  pukul 18.00. Sesampainya di sana, mereka bergegas naik ke lantai tiga untuk melihat suasana kamar mandi putri. Aura kegelapan terlihat begitu kuat karena lampu yang rusak yang hidup-mati-hidup-mati. Ditambah  ternit yang berjamur karena genting yang bocor membuat suasana semakin mencekam. Di sana ada dua pintu kamar mandi. Dewi mencoba membuka salah satu pintu tersebut tapi ternyata terkunci. Penjaga Pusat Kegiatan Mahasiswa  memang sering mengunci kamar mandi apabila ada kerusakan. Ia pun melihat ke arah atas dan terlihat ventilasi berwarna hitam menandakan lampu di dalam belum dinyalakan. Dewi menyimpulkan tidak ada orang, karena kalau ada orang, pasti lampu akan dihidupkan terlebih dahulu.
Perasaan mencekam datang dari pintu sebelahnya. Mereka mendengar bunyi orang bersiul-siul dan suara gemericik air. Namun anehnya ventilasi tetap berwarna hitam. Itu berarti tidak ada orang. Setelah mencoba membuka pintu, ternyata pintu terkunci. Mereka bertiga mulai merasakan takut. Bulu kuduk mereka mulai berdiri.
“Pin-tu ter-kunci, lampu mati, suara siul, suara gemeri-cik...hiii” Dewi berkata terbata-bata.
Sesaat kemudian pintu terbuka pelan-pelan. Dari dalam ruang gelap muncul sesosok bayangan manusia dengan tubuh kurus. Rambutnya keriting acak-acakan.
Esoknya, mereka berempat menceritakan kisahnya kepada teman-temannya tentang kisah horor kamar mandi putri Pusat Kegiatan Mahasiswa  lantai tiga.
“Bagaimana, horor kan?” tanya susi kepada sahabat-sahabatnya.
“Iya horor Sus. Masa kamar mandi putri yang make cowok.” balas Ratna sebal.
Ya, begitulah ceritanya. Kurangnya disiplin mahasiswa membuahkan cerita horor di Pusat Kegiatan Mahasiswa di kampus tersebut.



Contoh Teks Fabel : BAG FROGO DAN KATAK KECIL

BAG FROGO DAN KATAK KECIL

Oleh: D.Y

Di suatu hutan, terdapat sebuah desa katak. Desa itu dulunya sangat makmur dan memiliki banyak persediaan air. Tapi kini desa itu terlihat gersang semenjak kemarau yang berkepanjangan. Gubuk-gubuk katak terlihat coklat kering akibat kurangnya siraman air. Pohon-pohon juga terlihat layu. Hal itu membuat banyak katak kesakitan dan akhirnya mati.

Katak sebagai hewan amfibi tentu memerlukan air untuk hidup. Terlebih kulitnya harus selalu lembab. Oleh sebab itu untuk mengatasi kekurangan air di desa katak, setiap katak diutus oleh Kepala Desa untuk mencari sumber air terdekat. Sesudah pencarian yang lama, akhirnya ditemukan sebuah sumber air. Namun sayang, letaknya tidaklah dekat dengan desa tersebut. Sumber air tersebut berada di dekat puncak gunung. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengambil air dan kembali ke desa. Katak biasa hanya bisa mengambil sebanyak satu kali sehari atau dua ember perhari.
Namun karena desakan kebutuhan hidup, mereka mulai mengambil air dari mata air itu. Alat yang digunakan adalah sebuah tongkat dan dua buah ember. Tongkat digunakan dibahu untuk menopang dua ember air. Satu ember di sebelah kanan, dan satunya di sebelah kiri. Karena tidak semua katak mampu menempuh jarak yang jauh untuk mengambil air, akhirnya Kepala Desa membuka tempat pelelangan air. Di tempat tersebut, katak-katak bisa menjual air maupun membelinya. Tentu saja harganya juga lumayan mahal karena jarak tempuh yang jauh.
Frogo adalah nama katak jantan yang bertubuh paling besar. Tubuhnya sangat kekar. Ia bisa mengambil air sebanyak lima kali sehari atau sepuluh ember perhari. Sebagai katak yang bisa mengambil banyak air, ia menjadi katak paling kaya di desa tersebut. Ia mendapatkan banyak uang dari hasil menjual air di tempat pelelangan air yang disediakan Kepala Desa. Tentu saja, mayarakat desa juga merasa terbantu dengan adanya persediaan air yang cukup.
Dengan tubuhnya yang kekar dan uangnya yang berlimpah, ia menjadi katak yang sombong. Ia diberi julukan “Bag” yang artinya perkasa. Katak-katak di desa tersebut sering memangginya Bag Frogo. Frogo pun merasa senang dan terhormat mendengar julukan tersebut.
Suatu ketika ada seekor katak dengan tubuh kecil ingin meminta sedikit air karena ibunya yang sedang sakit. Katak bertubuh kecil itu harus menunggu ibunya oleh sebab itu ia tidak bisa mengambil air.
“Frogo-Frogo, mohon berilah saya sedikit air, ibu saya sedang sakit, saya harus menunggu ibunda sehingga tidak bisa mengambil air!” Mendengar namanya disebut tanpa menggunakan julukannya, Frogo merasa dihina. Ia pun geram.
 “Apa kamu bilang? Jangan sok akrab denganku! Panggil aku Bag Frogo! Seluruh desa ini sudah tahu akulah sang perkasa Frogo, Bag Frogo! Jangan harap aku memberimu air katak dungu!”
“Kumohon Bag Frogo berilah sedikit air” dengan merendahkan diri, katak bertubuh kecil itu memanggil nama Frogo sesuai permintaannya.
“Terlambat, kamu sudah membuat suasana hatiku tidak enak. Dasar pemalas! Lihatlah tubuhmu yang kurus itu, pasti kau sangat malas. Ambil air sendiri!” Mendengar jawaban tersebut, hati katak sangat terpukul.
Karena tidak ada cara lain lagi, akhirnya Katak Kecil tersebut pergi mengambil air sendiri. Dengan perasaan khawatir akan ibunya yang sedang sakit, ia berusaha secepat mungkin mengambil air dan segera pulang. Seperti apa yang dikhawatirkan Katak Kecil tersebut, ketika Katak Kecil sedang mengambil air, tiba-tiba sakit ibunya kumat. Seseorang harus segera membawannya ke tabib. Beruntung, saat itu Kepala Desa sedang berkeliling mengunjungi setiap warganya. Sampailah Kepala Desa di rumah Katak Kecil. Ia melihat ibu Katak Kecil terbaring lemas dan segera membawanya ke tabib.
Sesampainya di rumah, Katak Kecil terkejut melihat ibunya tidak ada di rumah. Namun beberapa saat kemudian, tetangganya memberitahu bahwa tadi ada Kepala Desa mengunjungi rumahnya. Ia segera berlari mengunjungi Kepala Desa untuk menanyakannya.
            “Selamat sore Pak Kepala Desa, apakah bapak tahu dimana ibu saya?” Katak Kecil merasa sangat khawatir, ia takut terjadi sesuatu dengan ibunya.
            “Ya, selamat sore, silahkan masuk dulu.” Kepala Desa adalah katak yang sangat ramah. Selain itu ia juga baik hati. Banyak warga menyukainya. Oleh sebab itu ia ditunjuk sebagai Kepala Desa Katak.
            “Begini, tadi saya berkunjung ke rumah. Saya melihat ibumu terkapar lemas di bawah. Jadi saya membawanya ke tabib Ongki. Kata tabib Ongki keadaan beliau sudah lebih baik, nanti sudah boleh pulang. Tapi beliau berpesan supaya kamu menjaga ibumu baik-baik.” Mendengar penjelasan dari Kepala Desa, Katak Kecil merasa lega.
            Katak Kecil dihadapkan dengan dua permasalahan. Yang pertama ia harus selalu di sisi ibunya, sedangkan yang kedua ia harus mengambil air. Dengan kedua permasalahan tersebut, Katak Kecil tidak menyerah. Suatu ketika ia memberikan segelas air untuk diminum ibunya. Ia melihat bahwa air bergerak di dalam gelas dari bagian yang tinggi menuju bagian yang rendah. Katak Kecil mendapat ide untuk membuat mata air di gunung agar bisa dialirkan ketempatnya. Ia tidak lagi mengambil air tapi kini Katak Kecil berusaha membuat pipa dari batang bambu menuju ke rumahnya. Ia menjual barang, barangnya untuk membeli keperluan hidup sementara ia membangun saluran air.
            Melihat Katak Kecil semakin terlihat miskin, Frogo justru merasa senang. Ia merasa bahwa Katak Kecil pemalas memang pantas hidup miskin. Berbeda dengannya yang giat bekerja. Ia merasa pantas berfoya-foya setelah apa yang dikerjakannya.
“Lihatlah pemalas itu! Ia sampai harus menjual barang-barangnya.” Dengan bangga Frogo mencibir Katak Kecil dihadapan teman-temannya.
Tentu saja Katak Kecil merasa sakit dengan ucapan Frogo tapi justru hal itu dianggapnya sebagai cambukan untuk tetap bersemangat. Tidak seperti yang dipikirkan Frogo, Katak kecil tadi tidaklah bermalas-malasan. Ia membangun sedikit demi sedikit. Pagi hari ia menyiapkan makanan untuk ibunya. Siang hari ia memotong bambu. Sore hari ia membawanya untuk digabungkan dengan saluran yang sebelumnya.
Hari-hari berlalu, simpanan makanan dan air dari hasil penjualan barang Katak Kecil pun habis. Ia terpaksa harus meminjam seseorang. Tapi siapa? Ia membayangkan akan meminjam Bag Frogo, tapi ia tahu bahwa Bag Frogo sangat membencinya. Meskipun dapat ia harus menanggung rasa sakit hati lagi. Sempat juga terpikir untuk meminjam Kepala Desa, tapi Kepala Desa juga sudah tidak memiliki kelebihan uang. Ia juga hidup pas-pasan. Karena tidak ada pilihan lain ia tetap datang menemui Bag Frogo di tempat pelelangan. Saat itu Frogo baru saja selesai menjual air dengan pedagang di pelelangan. Ia baru saja mendapatkan uang dari pekerjaanya mengangkut sepuluh ember air.
“Bag Frogo, bolehkah aku meminjam sedikit uangmu, persediaanku sudah habis.”
“Hah? Pinjam? Memangnya kamu bisa mengembalikannya? Lihat teman-teman, katak pemalas ini mau meminjam uang! Bagaimana kamu mau mengembalikannya? Urus saja ibumu, sana!” Seusai berkata demikian Bag Frogo masih mengolok-olok Katak Kecil dihadapan teman-temannya.
Sesuai dugaan katak kecil. Sekarang ia benar-benar kapok berhubungan dengan Frogo. Beruntung ada Katak Baik di pelelangan. Ia merasa kasihan melihat Katak Kecil diolok-olok seperti itu. Ibu dari Katak Baik itu juga sakit, oleh sebab itu ia memiliki empati dengan Katak Kecil. Ia memberikan sedikit pinjaman untuk katak kecil. Dengan sedikit pinjaman dari Katak Baik tersebut katak kecil berhasil bertahan hidup dan menyelesaikan saluran airnya.
Air mengalir melimpah menuju penampungan air milik katak kecil. Dengan persediaan air yang Katak Kecil mulai menjual air tersebut ke tempat pelelangan. Semua pengunjung pelelangan heran bagaimana bisa Katak Kecil mengambil air sebanyak itu? Akhirnya katak kecil menjadi katak paling kaya di desa tersebut.
Frogo merasa tersaingi. Ia merasa iri dengan apa yang didapatkan katak kecil. Namun Frogo tidak tahu bagaimana katak kecil mendapatkan air tersebut. Karena merasa kalah dengan katak kecil, Frogo menambah intensitas pengambilan air. Dari yang biasanya sepuluh ember perhari, kini ia naikan menjadi dua puluh ember perhari. Dengan dua puluh ember perhari. Frogo menjadi katak paling kaya lagi.
Hari demi hari berlalu, tubuh Frogo yang dulu kekar kini kian kurus akibat kelelahan dan kurangnya waktu istirahat akibat mengejar target dua puluh ember setiap hari. Tubuh Frogo pun akhirnya tidak kuat lagi untuk diajak mengambil air. Meski begitu Frogo masihlah sombong. Ia masih saja berfoya-foya, tak sadar bahwa hartanya semakin habis. Akhirnya Frogo jatuh miskin.
 Berbeda dengan Frogo, Katak Kecil masih sanggup membawa lima belas ember untuk dijual ditempat pelelangan karena Ia hanya perlu membawanya dari rumah menuju tempat pelelangan. Jaraknya tidaklah jauh. Katak kecil semakin kaya dan dihormati di desanya. Katak Kecil ingat bagaimana sakit hatinya dulu ketika ia dihina oleh katak-katak kaya. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk tidak berbuat sombong kepada katak yang kurang mampu. Ia sering sekali menolong katak-katak yang kesulitan.
           

Jumat, 03 Oktober 2014

Teks Drama

Pengertian Teks Drama

Teks drama ialah semua teks yang bersifat dialog dan yang isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, 1984). Dalam teks drama, dialog-dialog merupakan bagian terpenting. Pada pokoknya, drama terdiri atas tek-teks para aktor. Disamping itu unsur lain dalam drama adalah unsur dialog. Di dalam unsur dialog terdapat alur (rangkaian cerita), tokoh dan karakternya, latar, gaya bahasa, serta tema.
Untuk lebih memahami teks drama, berikut ini akan dibahas unsur-unsur pembangun drama :

1. Tema dan Amanat dalam Drama

Tema merupakan rumusan intisari cerita sebagai landasaan idiil dalam menentukan arah tujuan cerita (Harymawan, 1988:24). Amanat merupakan pesan yang akan disampaikan pengarang kepada pembacannya.

2. Alur Drama

Alur merupakan rentetan peristiwa dalam hubungan logik serta kronologik, dan saling berkaitan yang diakibatkan atau dialami oleh pelaku (Luxemburg 1984:1490).
Struktur alur drama menurut Aristoteles:
a. Protasis (permulaan)
b. Epitasio (jalinan kejadian)
c. Catastasis (klimaks)
d. Catastrophe (penutup)
Dalam drama, penyajian alur diwujudkan dalam urutan babak dan adegan. Babak merupakan bagian terbesar dalam sebuah lakon. Pergantian babak dalam pentas drama ditandai dengan layar yang ditutup, atau lampu langsung dimatikan sejenak. Kemudian dinyalakan kembali beserta dimulainya babak berikutnya. Pergantian babak juga menandai pergantian latar, maupun waktu.
Adegan adalah bagian dari babak. Pergantian adegan, tidak selalu diikuti pergantian latar. Dalam satu babak terdiri atas beberapa adegan (Harymawan, 1988).

3. Tokoh Drama

Tokoh di dalam drama mengacu pada watak (sifat-sifat pribadi seorang pelaku). Dalam drama, pengungkapan watak dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui dialog dan lakuan. Dalam drama, watak sorang pelaku dapat diketahui dari tindakan yang mereka lakukan, dari reaksi mereka saat situasi tertentu serta dari sikap mereka menghadapi suatu peristiwa atau watak tokoh lain.
Dalam drama, watak juga dapat di diketahui dari kata-kata yang diucapkan ataupun melalui kata-kata yang diucapkan pelaku lain  terhadap pelaku tersebut.

4. Latar Drama

Latar dalam drama meliputi latar tempat, latar waktu, dan latar suasana.

5. Dialog (Cakapan) dalam Drama

Unsur cakapan merupakan bagian penting dalam drama, karena sebagian besar teks drama didominasi oleh unsur cakapan. Ada dua macam cakapan, yaitu dialog dan monolog. Disebut dialog ketika ada dua orang atau lebih tokoh saling bercakap-cakap. Disebut monolog ketika seorang tokoh sedang bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Monolog sendiri masih dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
a. monolog yang membicarakan hal-hal yang sudah lampau
b. soliloqui yang membicarakan hal-hal yang akan datang
c. daan aside untuk menyebut percakapan seorang diri yang ditunjukan kepada penonton (Supartinah & Indratmo, 1991).

6. Lakuan  dan Petunjuk lakuan)
Lakuan merupakan kerangka sebuah drama. Lakuan harus selalu berhubungan dengan plot dan watak tokoh. Dalam sebuah drama, lakuan dapat bersifat badaniah maupun batiniah. Hal tersebut akan tergambar melalui dialog. Dialog akan menggambarkan perubahan atau kekusutan emosi yang terungkap dalam sebagian arti percakapan pelakunya. Di sini situasi batin juga dapat terlihat dari gerak-gerik fisik seseorang, yang disebut sebagai dramatik action.

Lakuan dalam teks drama berbeda dengan teks fiksi dan puisi. Hal yang membedakan naskah drama dengan teks fiksi menurut Suroso (2015:18) adalah (1) terletak pada pemakaian "petunjuk lakuan" (petunjuk tentang sikap, atau perasaan tokoh yang biasanya diletakan sebelum atau sesudah dialog) dan dialog; (2) dari segi penggambaran watak, watak tokoh dalam teks drama dideskripsikan oleh tindakan dan motivasi tokoh ketika berdialog dengan tokoh lain, (3) dari segi bahasa, teks drama memiliki bahasa yang cenderung lisan, seperti orang berbicara. 


Kamis, 02 Oktober 2014

Teks Narasi

Pengertian Teks Narasi

Teks naratif ialah semua teks yang tidak bersifat dialog dan isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa itu hadir sebuah cerita (Luxemburg, 1984). Sastra jenis naratif biasanya terdapat dalam teks roman, novel, prosa, lirik, dan cerita pendek (cerpen).
Narasi disebut pula cerita. Narasi dapat berisikan fakta, fiksi atau rekaan atau yang dikhayalkan oleh pengarannya. Yang berisikan fakta biasa disebut biografi/otobiografi, sedangkan yang berupa fiksi ialah novel, cerpen, cerbung, dan sebagainya.

Unsur-Unsur Pembangun Teks Narasi

1. Tokoh

Di dalam teks naratif, tokoh adalah para pelaku yang terdapat dalam sebuah fiksi. Tokoh dalam teks naratif merupakan ciptaan pengarang, meskipun dapat juga merupakan gambaran dari orang-orang yang hidup di alam nyata. Oleh karena itu, dalam sebuah fiksi tokoh hhendaknya dihadirkan secara  alamiah. Dalam arti tokoh tersebut memiliki "kehidupan" atau berciri "hidup", atau memiliki derajat. Sama seperti manusia di alam nyata, yang bersifat tiga dimensi, maka tokoh dalam fiksi pun hendaknya memiliki dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis meliputi usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri-ciri muka, dsb.
Tokoh dalam teks naratif biasanya dibedakan menjadi beberapa jenis. Sesuai dengan keterlibatannya dalam cerita dibedakan antara tokoh utama (sentral) dan tokoh tambahan periferal). Tokoh disebut tokoh sentral apabila memenuhi tiga syarat, yaitu: a) paling terlibat dengan tema b) paling banyak berhubungan dengan tokoh lain c) paling banyak memerlukan waktu penceritaan 
 Menurut wataknya, tokoh dikenal dengan tokoh sederhana dan kompleks. Tokoh sederhana ialah tokoh yang kurang mewakili keutuhan personalitas manusia dan hanya ditonjolkan satu sisi karakternya saja. Sementara tokoh kompleks, lebih menggambarkan keutuhan personalitas manusia, yang memiliki sisi baik dan buruk secara dinamis (Sayuti, 2000). 

2. Alur/ Plot

Dalam teks naratif, alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hubungan kausalitas. Secara garis besar alur dibagi dalam tiga bagian, yaitu awal, tengah, dan akhir (Sayuti, 2000). Secara sederhana, lihatlah gambar alur/plot dibawah ini:
Piramida Alur
Bagian awal berisi eksposisi yang mengandung instabilitas dan konfliks. Bagian tengah mengandung klimaks yang merupakan puncak dari konfliks. Bagian akhir mengandung denoument atau penyelesaian masalah.
Plot dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Sesuai dengan penyusunan peristiwa atau bagian bagiannya, dikenal plot kronologis atau disebut juga plot progresif, dan plot regresif atau disebut juga flash back. Dilihat dari akhir cerita dikenal dua jenis plot yaitu terbuka dan tertutup. Disebut plot tertutup apabila sebuah cerita memiliki akhir atau penyelesaian yang jelas. Dan sebaliknya.
Dilihat dari kuantitasnya maka plot dapat dibedakan menjadi plot tunggal dan plot jamak. Plot disebut tunggal ketika rangkaian peristiwa hanya mengandung satu pokok peristiwa/primer, sementara alur dianggap jamak ketika memiliki berbagai peristiwa primer dan peritiwa lain.
Dari kualitasnya, dikenal plot rapat dan plot longgar. Disebut plot rapat apabila plot utama cerita tidak memiliki celah yang memungkinkan untuk disisipi plot lain. Sebaliknya sebuah plot disebut longgar apabila memungkinkan adanya penyisipan plot lain (Sayuti, 2000).

3. Latar (setting)

Dalam teks naratif, latar berfungsi untuk memberi konteks cerita. Latar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial. Latar tempat berkaitan dengan masalah geografi (lokasi, kota, desa, dsb). Latar waktu berhubungan dengan masalah waktu (hari, jam, tanggak, dsb). Latar sosial berkaitan dengan kehidupan suatu masyarakat (Sayuti, 2000). 

4. Judul

Judul adalah hal pertama yang paling mudah dikenal oleh pembaca karena sampai saat ini, semua karya tidak ada yang tidak memiliki judul. Judul seringkali mengacu pada tokoh, latar, tema, maupun kombinasi dari beberapa unsur tersebut.

5. Sudut Pandang (point of view)

Sudut pandang atau point of view dibedakan menjadi:
  1. sudut pandang first person central atau akuan sertaan;
  2. sudut pandang first person peripheral atau akuan taksertaan;
  3. sudut pandang third person omniscient atu diaan mahatahu;
  4. sudut pandang third person limited atau diaan terbatas

6. Gaya dan Nada

Gaya (gaya bahasa) adalah cara pengungkapan yang khas bagi seorang pengarang. Gaya meliputi penggunaan diksi (pilihan kata), imajeri (citraan), dan sintaksis (pilihan pola kalimat).
Nada berhubungan dengan pilihan gaya untuk mengekspresikan suatu sikap.

7. Tema

Tema merupakan makna cerita. Tema pada dasarnya merupakan sejenis komentar terhadap subjek atau pokok masalah. Tema mengandung sikap pengarang terhadap subjek atau pokok cerita. Tema memiliki fungsi untuk menyatukan unsur-unsur lainnya.
Tema dapat dibedakan menjadi: tema jasmaniah: temayang berkaitan dengan keadaan jiwa seseorang manusia. Tema organik (moral) yang berhubungan dengan moral manusia. Tema sosial: tema yang berhubungan dengan masalah sosial (politik, pendidikan, propaganda, ddsb). Tema egoik, berhubungan dengan reaksi-reaksi pribadi pada umumnya yang menentang pengaruh sosial. Tema ketuhanan yang berhubungan dengan kondisi dan situasi manusia sebagai ciptaan Tuhan.